suplemenGKI.com

Jumat, 4 Mei 2012

03/05/2012

1 Yohanes 4:7-21

 

MENGHADIRKAN KASIH ALLAH

Surat 1 Yohanes pasal 4 ini ditulis dengan maksud mengingatkan jemaat bahwa keselamatan di dalam Yesus Kristus memiliki hubungan yang erat, yang merupakan satu kesatuan, dengan kehidupan moral dan kasih dalam hubungan dengan sesama. 

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Dari mana sumber kasih bagi orang percaya? (ayat 7-10)
  2. Bagaimana kita dapat menghadirkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari? (ayat 11)
  3. Apakah dasar bagi orang percaya dalam mewujudkan kasih bagi sesama? (ayat 19)
  4. Bagaimana seharusnya kasih kita kepada sesama ketika tidak mendapatkan respon yang seimbang/tidak sesuai dengan harapan kita?

 

RENUNGAN

Allah adalah sumber kasih.  Dialah kasih itu sendiri, tiada kasih di luar Diri-Nya.  Hal itu berarti tidak ada seorangpun yang memiliki kasih kecuali ia ada di dalam Dia dan sebaliknya seorang yang ada di dalam Dia seharusnya (pasti) memiliki kasih.  Dasar kasih kita kepada sesama adalah “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (ayat 10).  Dengan demikian relasi Allah dan manusia ditandai dan dibentuk oleh kasih.  Berbagai perbuatan Allah bagi manusia adalah tindakan kasih.  Dalam bagian ini Yohanes menunjuk kepada puncak pernyataan dan wujud kasih Allah kepada manusia.  Kedatangan Yesus ke dunia adalah bukti kasih Allah (ayat 9).  Kematian-Nya memberi hidup kepada manusia yang percaya pada-Nya, dan ini bukan karena manusia mengasihi Allah.  Oleh sebab itu kita yang telah menerima kasih Allah seharusnya merespons dan mewujudkan kasih itu di dalam kehidupan kita (ayat 7,11).  Jika tidak, maka tidak ada bukti bahwa kita telah mengalami kasih Allah dan sekarang sedang berelasi dengan-Nya (ayat 7).  Hidup dalam kasih merupakan bukti hidup bersama Allah (ayat 13,15). 

Manusia sebagai ciptaan Allah diberi kemampuan untuk mengasihi.  Tetapi kasih yang mereka miliki dan wujudkan akan sempurna jika kasih itu menunjuk pada salib Kristus.  Yohanes menegaskan bahwa tidak mungkin manusia mengenal kasih Allah lepas dari Kristus.  Jika ingin memiliki kasih maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah percaya pada Yesus (ayat 15,16).  Tetapi tidak mungkin manusia menjadi percaya Yesus tanpa mendengar kesaksian orang percaya (ayat 14). Melalui kasih kita kepada sesama yang didasari kasih Allah bagi hidup kita, seharusnya kita mewujudkan kasih secara nyata agar orang lain mengenal kasih Allah itu. 

Menghadirkan kasih Allah dalam hidup sehari-hari memang terkadang membutuhkan proses yang panjang.  Dalam proses ini kita seringkali mengalami kekecewaan karena mendapatkan respons yang tidak seimbang.  Tetapi bila kasih Allah ada dalam kita, kekecewaan itu tidak mampu membendung kita untuk kembali belajar mengasihi.  Kita dapat mengasihi karena kita sungguh-sungguh hidup dalam sumber kasih, yang tidak akan pernah berhenti mengalir.  Demikianlah kasihnya akan terus mengalir menjadi berkat bagi orang lain, karena kasihnya tidak bergantung kepada dirinya sendiri yang terbatas, namun kepada Allah yang tidak terbatas.  Kasih itu pula yang membentuk karakter dan kepribadian kita, tidak lagi memikirkan diri sendiri, tetapi bagaimana menyatakan kasih Allah agar semakin banyak orang mengenal Dia melalui kita.  Pernahkah kita mengalami kasih tanpa respon yang seimbang?  Bagaimana kasih kita kepada sesama di saat kasih itu tanpa respon yang seimbang?  Apakah kita masih dapat mengasihi?

Allah yang telah terlebih dulu mengasihi kita adalah sumber kasih kita kepada sesama, sehingga kita dapat tetap mengasihi walau terkadang tanpa respons seimbang

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»