suplemenGKI.com

JUMAT, 31 MEI 2013

30/05/2013

ROMA 14:19-20

KACAMATA ALLAH

 

PENGANTAR
Begitu terbangun, pak Marmo segera memanggil istrinya.  “Bu, jam berapa ini kok sudah gelap?  Memang sudah malam atau di luar  mendung?,”  Dengan tersenyum, istrinya menjawab, “walah bapaaak, pantesan semua jadi gelap, lha wong kacamata hitamnya dipakai terus.  Coba dilepas, khan semua jadi terang!”. “Bener juga, thanks yo bu sudah mengingatkan.” Jawab pak Marmo.  Obrolan ringan ini mengajarkan kepada kita bahwa respons kita kepada sesama dan lingkungan sangat ditentukan oleh cara pandang atau ‘kacamata’ yang kita pakai.  Sebagai orang percaya, ‘kacamata’ apa yang semestinya kita gunakan?  Mari kita belajar dari nasihat Paulus kepada jemaat kristen di Roma!

PEMAHAMAN
Hal apa yang Paulus harapkan kepada Jemaat untuk dilakukan? (ayat 19)

Apa yang Paulus nasihatkan di bagian ini? (ayat 20)

Apa yang Paulus pahami tentang makanan yang dapat berpengaruh dalam relasi dengan orang lain? (ayat 20)

Menurut LAI, Roma 14 terbagi menjadi dua tema besar (ayat 1-12, “jangan menghakimi saudaramu” dan ayat 13-23, “jangan memberi batu sandungan”) yang mempunyai kesatuan makna, yaitu bagaimana bersikap terhadap sesama, khususnya terkait dengan makanan.  Paulus menasihati jemaat agar mempunyai sikap yang menghargai keberatan hati nurani orang lain terhadap makanan tertentu, yang meskipun bagi kita tidak ada pantangan memakannya.  Paulus tegas menyatakan, “Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia” (ayat 15b).  Dengan kata lain, apa yang Paulus sampaikan bukan mengenai makanannya secara fisik tetapi soal cara pandang terhadapnya yang berdampak pada lingkungan yang lebih luas.  Berulang kali Paulus menekankan hal ini ( ayat 14, 15b, 17, 18, 20, 22).  Keengganan menggunakan cara pandang menurut Allah, justru akan merusak “pekerjaan Allah” (ayat 20).

Berapa banyak kerusakan relasi dengan sesama dan tatanan kehidupan (polusi, sampah, dll) yang justru bermula dari sikap hanya mementingkan diri sendiri.  Cara pandang menurut Allah justru akan menolong orang percaya untuk menghargai setiap berkat yang diterima sebagai bagian dari panggilan untuk memberkati orang lain dan dunia.  Cara pandang ini harus menjadi ‘kacamata’ baca sehingga setiap orang percaya mampu mendatangkan “damai sejahtera” (ayat 20) dan “membangun” bagi lingkungannya.  Adakah ‘kacamata’ lain yang lebih baik dari ‘kacamata’ Allah?

REFLEKSI
Berapa sering aku menggunakan kacamata keegoisanku? Dan dengan sengaja enggan menggunakan kacamata Allah yang mendatangkan damai sejahtera?

TEKADKU
Aku mau memakai kacamata Allah dalam memandang dan memaknai segala sesuatu sebagai bagian dari panggilan hidupku bagi orang lain.

TINDAKANKU
Aku mau belajar memperhatikan kepentingan bersama ketika ada di tempat kerja, di jalan raya, hidup bertetangga atau di gereja agar orang lain di sekitarku merasakan damai sejahtera.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»