suplemenGKI.com

Matius 5:1-4

MISKIN & DUKACITA

 

Pengantar
Setelah keliling Galilea untuk mengajar dan membuat banyak mujizat, Tuhan Yesus naik ke atas bukit dan mengajar para murid yang datang kepada-Nya.  Khotbah Yesus di atas bukit ini disebut juga “Sabda Bahagia”.  Ajaran Tuhan Yesus ini begitu Agung, namun demikian   susah dipahami bahkan menimbulkaan kontroversi bagi mereka yang hanya mengandalkan logika berpikir untuk memaknai kata demi kata ucapan Yesus ini.

Pemahaman
Ayat 3: Apa artinya “miskin di hadapan Allah”?  Bagaimana kita memaknainya?

Ayat 4: Mengapa Yesus mengatakan ‘berbahagialah mereka yang berdukacita’?

Sebagai orang pecaya, bagaimana kita memaknai sabda Agung ini?

Hal pertama yang diajarkan Yesus adalah “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Sorga” (ay.3).  Miskin di hadapan Allah tidaklah sama dengan ‘miskin’ dalam pengertian sehari-hari yang berarti tidak berharta, juga bukan berarti kita tidak boleh kaya atau sukses.  Miskin di hadapan Allah artinya kita harus MENANGGALKAN RASA KEPEMILIKAN baik materi, harga diri dan juga kebanggaan  atas kesuksesan yang kita raih.  Di hadapan-Nya kita bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa.  Kita adalah ‘Nothing’.  Menyadari diri ‘miskin’ di hadapan Allah akan membuat kita menyerahkan diri sepenuhnya pada otoritas Allah, Sang empunya Kerajaan Sorga.  Saat hidup kita total bergantung pada Allah yang empunya Kerajaan sorga maka kitapun akan menjadi pemilik Kerajaan Sorga.   

Selanjutnya Tuhan Yesus berkata :”Berbahagialah mereka yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” (ay.4).  Ucapan Tuhan Yesus ini tentu  susah untuk dipahami, bagaimana kita bisa berbahagia saat berdukacita?  Namun demikian kita bisa memaknai ada jaminan dalam perkataan Tuhan Yesus bahwa kita akan dihibur, hal ini juga berarti  dalam dukacita kita harus kuat dan tidak berputus asa karena DIA tidak pernah meninggalkan kita.  Maka dalam dukacitapun kita berbahagia karena ada jaminan bahwa Tuhan selalu beserta kita.

Refleksi
Mari kita berdiam diri sejenak, kita hening, pusatkan pikiran kita kepada Allah yang Agung , Sang Sumber segalanya, lalu lihatlah diri kita, keberadaan kita, manusia yang diciptakan-Nya dari debu.  Siapakah kita?  Apa yang kita punya sehingga kita bisa berkata :”ini kepunyaanku Tuhan”  Tidak ada!  SEMUA MILIK-Nya!  Bahkan DIRI KITAPUN MILIK-NYA.  Kalau demikian pantaskah kita bermegah diri atas apa yang kita punya, baik itu keluarga, materi, harga diri maupun kesuksesan?   Bukankah itu  semua berasal dari-Nya?

Tekadku
Tuhan aku ingin menjadi yang berbahagia dan memiliki Kerajaan Sorga karena itu buatlah aku selalu menyadari bahwa aku miskin di hadapan-Mu, sehingga aku selalu menggantungkan hidupku pada pemeliharaan tangan-Mu.

Tindakanku
Hari ini akan kukatakan kepada keluargaku bahwa mereka dan apa yang ada padaku adalah milik Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«