suplemenGKI.com

Mazmur 43

 

“Tetaplah berharap kepada Tuhan”

Pengantar:
            Tidak bisa dipungkiri ketika kita berada dalam situasi yang sulit dan berat seperti masa pandemi covid-19 ini, banyak di antara kita yang sudah merasa lelah, jenuh dan mungkin juga putus asa. Keadaan demikian tidak jarang membuat kita merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk melangkah maju melanjutkan kehidupan. Hari ini bacaan kita mengingatkan kita bahwa dalam kondisi seberat apapun tetap masih ada tempat untuk kita menaruh pengharapan kepadanya, yaitu Tuhan kita. Itulah yang dilakukan oleh pemazmur ketika dia berhadapan dengan pergumulan hidup yang sangat berat.

Pemahaman:

  1. Apa yang sedang dihadapi oleh pemazmur sehingga ia merasa tidak berdaya lagi? (v. 1)
  2. Apa yang dihayati oleh pemazmur melalui ungkapan-ungkapannya di ayat 2-3?
  3. Apa makna pernyataan pemazmur di ayat 4-5?

Pemazmur dalam konteks Mazmur 43 ini sedang mengalami tekanan yang tidak mudah, yaitu diperlakukan tidak adil, dicurangi dan ditipu oleh pihak-pihak yang tidak saleh (baca: jahat). Kaum tersebut bukan saja berlaku tidak adil, penipu dan curang tetapi juga tidak memperjuangkan perkara-perkara kaum lemah termasuk di dalamnya si pemazmur ini. Bisa jadi mereka adalah para penguasa, para pemimpin agama yang tidak benar yang sedang  memanfaatkan jabatannya untuk menindas pihak lain (Lih. v.1). Dalam kondisi demikian pemazmur tetap menghayati bahwa masih ada pribadi yang bisa diandalkan dan menjadi tempat untuk berharap, yaitu Allah Sang Terang yang menjadi tempat mengungsiannya. Istilah “tempat pengungsian” menunjukan bahwa ketika tidak ada lagi tempat di sekelilingnya yang bisa diharapkan, ia masih memiliki Allah yang siap menerima dan mengasihinya.  Dialog pemazmur di ayat 2-3 menunjukan betapa dekatnya pemazmur dengan Allah sehingga dia bisa mengadukan perkaranya dan memohon apa yang menjadi kerinduannya kepada Allah. Itu sebabnya di ayat 4-5, kita bisa melihat bahwa pemazmur sekalipun di dalam kondisi ditekan, ditindas dan diperlakukan dengan tidak adil oleh pihak-pihak yang jahat, namun dia masih tetap merasa bergembira bersukacita ketika datang kepada Allah. Bahkan dia berkata kepada dirinya sendiri agar tidak perlu tertekan, tidak perlu gelisah melainkan harus tetap bersyukur karena Allah menjadi tempat pengungsiannya. Bagaimana dengan saudara, jika saudara dalam keadaan tertekan masih ada Allah tempat pengharapan kita.

Refleksi:
Saudara-saudara seberat dan sesulit apapun keadaanmu, jangan putus asa apalagi hilang pengharapan, karena Allah masih menjadi tempat untuk kita berlindung dan berharap, Dia mau menerima kita seperti ia telah menerima Pemazmur yang datang kepada-Nya.

Tekadku:
Tuhan, ajarkan dan mampukan saya untuk tetap bisa memandang terang-Mu agar saya boleh melihat pengharapan dari pada-Mu di saat-saat yang sulit dan berat seperti sekarang ini.

Tindakanku:
Saya harus terus meyakini diri sendiri bahwa masih ada pengharapan yang Allah sediakan bagi saya walau di tengah-tengah pandemi covid-19 yang belum berakhir sampai saat ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«