suplemenGKI.com

Karya Kristus sebagai Imam Besar

Ibrani 9:11-14

 

Pengantar

Melanjutkan apa yang kita renungkan kemarin, hari ini kita akan memahami karya Kristus sebagai imam besar. Secara politis seorang imam besar memiliki peranan yang sangat besar, yaitu menjadi ketua Mahkamah Agama. Namun kita tahu bahwa karya Kristus tidaklah terkait dengan urusan politis. Karena itu kita tidak akan membicarakan hal tersebut. Tugas khusus seorang imam besar yang akan kita bicarakan di sini adalah tugas yang terkait dengan kehidupan keagamaan Yahudi.

Pemahaman

Ay. 12    : Apakah tugas seorang imam besar menurut ayat ini?

Ay. 14    : Di manakah letak superioritas keimaman Kristus dibandingkan dengan para imam besar yang lainnya?

Dalam memberikan gambaran tentang Kristus sebagai imam besar, Penulis surat Ibrani memaparkan tentang apa yang menjadi tanggungjawab seorang imam besar. Setiap satu tahun sekali, seorang imam besar akan masuk ke dalam tempat kudus, yakni pada hari raya pendamaian. Pada saat itu seorang imam besar akan membawa sebagian darah binatang yang dipersembahkan ke ruang maha kudus dari Bait Allah, untuk dipercikkan di ruang maha kudus itu. Ritual ini hanya dapat dilakukan oleh imam besar yang sudah menyucikan dirinya terlebih dahulu. Artinya, mereka yang bukan imam besar tidak boleh masuk ke dalam ruang maha kudus. Bahkan sekalipun dia adalah seorang imam besar, tetapi bila tidak menyucikan dirinya, maka murka Allah akan menimpanya bila ia tetap masuk ruang maha kudus.

Sebenarnya, pada hari raya pendamaian itu ada dua ekor binatang yang dipersembahkan. Yang seekor disembelih, sedangkan yang seekor lagi ditumpangi tangan lalu dilepaskan ke padang belantara (Ima. 16:1-34; 23:27). Penentuan binatang mana yang disembelih dan mana yang dibuang dilakukan berdasarkan undi. Binatang yang dilepas ini kemudian disebut Azazel.

Superioritas keimaman Kristus nyata pada kualitas darah yang dipercikkan sebagai lambang pendamaian itu. Kristus bukan membawa darah binatang, tetapi darah-Nya sendiri, sehingga Ia tidak perlu mengulang korban pendamaian itu setiap tahun, melainkan cukup hanya satu kali saja untuk selamanya.

Refleksi

Maksud korban pendamaian itu adalah agar kita dapat beribadah, yakni memiliki hubungan pribadi kembali dengan Allah (ay. 14). Lalu, sudahkah kita mengarahkan diri kepada-Nya?

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya agar mengucap syukur kepada-Mu senantiasa dengan terus mengarahkan diri hanya kepada-Mu saja. Amin.

Tindakan

Hari ini saya akan menyanyikan lagu, “Hati Sebagai Hamba” sebanyak tiga kali, untuk mengingatkan diri agar, sebagai hamba Kristus, senantiasa mengarahkan diri hanya kepada Tuhan saja.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*