suplemenGKI.com

Memberitakan Hikmat Tanpa Hikmat

1 Korintus 2:6-16

Pengantar

Dalam perenungan kemarin kita melihat bagaimana rasul Paulus memutuskan untuk tidak menggunakan hikmat (kecerdasan) dalam menghadapi orang Korintus yang mengagumi kecerdasan. Hari ini, kita akan merenungkan isi berita yang disampaikan rasul Paulus kepada orang Korintus.

Pemahaman

Ayat 6-11: Dapatkah Saudara memberikan penjelasan yang menggambarkan tentang apa sesungguh diberitakan oleh rasul Paulus?

Ayat 12-16: Bagaimanakah sikap yang ditunjukkan oleh orang Korintus terhadap apa yang diberitakan rasul Paulus itu? Mengapa demikian?

Sekalipun kemarin kita membaca bagaimana rasul Paulus menyatakan bahwa ia tidak berkomunikasi dengan menggunakan hikmat, tetapi hari ini kita membaca penegasan rasul Paulus bahwa apa yang diberitakan sebenarnya adalah hikmat yang sesungguhnya. Hikmat yang diberitakan rasul Paulus bukanlah hikmat yang berasal dari dunia ini, sebab asal hikmat tersebut adalah dari luar dunia ini. Sehingga tidak perlu heran bila hikmat tersebut melampaui hikmat yang dimiliki orang-orang yang ada di dunia ini.

Selanjutnya rasul Paulus menegaskan dengan gamblang bahwa yang dia maksud dengan hikmat sejati itu adalah hikmat Allah yang nyata di dalam karya keselematan yang dikerjakan-Nya melalui kehadiran Kristus. Di dalam hikmatnya, manusia tidak sanggup memahami hikmat Allah yang memang melampaui kemampuan manusia. Ketidakmampuan tersebut membuat hikmat manusia nampak sebagai suatu kebodohan, dan di dalam kebodohannya itulah manusia menolak kehadiran Kristus. Alih-alih respon kebodohan itu menggagalkan hikmat Allah, sebaliknya justru Allah menangkap manusia dalam kebodohannya itu untuk menggenapkan kehendak dan rencanaNya.

Maka, untuk dapat memahami karya hikmat Allah itu, tidak ada cara lain selain datang kepada Allah. Kalau manusia tetap bereaksi dengan cara berdiri di luar lingkaran hikmat Allah, maka ia hanya menemui kegagalan belaka dalam memahami hikmat Allah tersebut.

Refleksi

Sebagaimana orang Korintus yang tidak dapat memahami karya Allah karena mengandalkan hikmat manusia, demikian pula dengan kita. Hal ini patut menjadi bahan perenungan kita, khususnya bila mengingat saat-saat di mana kita tidak mampu memahami karya kasih Allah yang mewujud dalam berbagai peristiwa realita hidup kita. Sudahkah kita berdiri di dalam lingkaran hikmat Allah dengan datang dan berserah kepada-Nya?

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolong saya untuk tidak mengandalkan diri sendiri, tetapi mau merendahkan diri untuk berserah kepada-Mu. Amin.

Tindakan

Saya mau hidup berserah kepada Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«