suplemenGKI.com

Jumat, 29 Juni 2012

28/06/2012

2 Korintus 8:7-15

“Bahagia Saat Menerima, Bahagia Juga Saat Memberi”

 

Seorang nenek tampak berbinar saat memberikan mantel kesayangannya pada gelandangan cilik yang sedang menggigil kedinginan di depan sebuah pertokoan. Di tengah keheranannya sang cucu bertanya,”Mengapa nenek begitu bahagia memberikan mantel kesayangan nenek pada gelandangan itu?” Dengan tersenyum sang nenek menjawab,”Aku bahagia karena aku tahu persis bagaimana rasanya bisa menerima apa yang kubutuhkan.” Rupanya, nenek ini pernah punya pengalaman ditolong oleh seseorang saat dia sedang sangat membutuhkan pertolongan. Pengalaman itulah yang membuatnya begitu bahagia saat bisa memberi. Dalam kehidupan kekristenan, sikap seperti ini jugalah yang seharusnya menjadi pola anak-anak TUHAN. Secara khusus, Rasul Paulus juga mengajarkan hal itu kepada jemaat di Korintus.

- Dasar pemikiran seperti apa yang dipakai Paulus untuk mendorong jemaat Korintus agar mereka memiliki kesadaran dalam hal memberi atau berbagi kasih? (ayat 8-9)

- Mengapa Paulus perlu menyinggung soal cara pelaksanaan pengumpulan persembahan di dalam jemaat Korintus? (ayat 10-12)

- Keindahan seperti apa yang akan didapat oleh jemaat terkait dengan kerelaan untuk berbagi ini? (ayat 13-15)

 

Renungan

Seperti dikatakan Paulus dalam ayat 7, jemaat Korintus kaya dalam segala sesuatu. Sebagai jemaat yang tinggal di kota yang begitu strategis dan terkemuka dalam perdagangan, maka para penduduknya kebanyakan adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mapan secara ekonomis. Namun demikian, Paulus tahu bahwa jemaat Korintus masih belum memiliki motivasi yang kuat sehingga mereka tidak mudah tergerak untuk belajar berbagi. Itulah sebabnya, di ayat 7 Paulus sempat menyinggung soal kekayaan dalam iman. Jika jemaat Korintus benar-benar menghayati kasih karunia yang mereka terima, seharusnya itu menjadi motivasi bagi mereka memberi  kepada yang miskin. Bukankah mereka juga pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi ’miskin rohani akibat dosa’ dan betapa bahagianya saat keselamatan dari KRISTUS membuat mereka menjadi ’kaya’? (ayat 9)

Selain memotivasi jemaat Korintus untuk berbagi, Paulus juga  menyinggung soal cara pelaksanaan pengumpulan persembahan di dalam jemaat Korintus. Sikap Paulus ini didasari oleh sikap jemaat Korintus yang tidak menepati janji. Rupanya, jemaat Korintus sudah pernah berkomitmen untuk memberi bantuan, namun ternyata semua itu hanya tinggal janji (ay.10). Mereka cenderung menunda-nunda dan tidak ada kejelasan kapan mereka mengirimkan dana bantuan yang diperlukan, padahal kemungkinan jemaat di Yerusalem saat itu berada dalam kondisi yang sangat kritis. Melihat kelemahan dalam jemaat Korintus ini Paulus tergerak untuk memberi solusi. Maka langkah yang diambil Paulus ialah dengan membantu mengkonkretkan tata cara pelaksanaan pengumpulan persembahan mereka (ayat 10-12). Dalam hal ini kita mendapati keteladanan Paulus. Dia telah menunjukkan sisi kuatnya sebagai seorang gembala yang menuntun dombanya (jemaat Korintus) dengan sabar untuk mengatasi kelemahan mereka.

Hal lain yang ingin ditunjukkan Paulus dalam persoalan belajar mengasihi dengan cara memberi ini ialah sebuah keindahan yang akan terwujud di dalam kehidupan anggota tubuh KRISTUS. Di ayat 14 Paulus menyebut kata “keseimbangan”. Kata ini menunjuk pada sebuah kondisi yang sehat dan proporsional. Bukankah keadaan seperti ini menandakan jemaat  tengah belajar hidup sesuai kehendakNya, di mana anggota-anggota tubuh Kristus dapat saling menopang dan melepas keegoisan?

 

“Sukacita karena telah menerima karuniaNya, haruslah membuat kita sedia berbagi kasih kepada sesama, dengan hati yang rela”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«