suplemenGKI.com

Yakobus  5: 16-20

Mengaku Dosa Kepada Sesama

 

Pada akhir suratnya Yakobus mengajarkan tentang kuasa doa orang benar, sebagaimana yang juga pernah dilakukan Elia.  Menariknya sebelum hal doa diungkapkan Yakobus terlebih dulu mengawali dengan himbauan “Hendaklah kamu saling mengaku dosa“. 

Pertanyaan Penuntun:

  1. Apakah perlu kita mengaku dosa kepada sesama? (ay.16)
  2. Bagaimana kuasa doa nabi Elia? (ay. 17)
  3. Apa yang dimaksud dengan ‘orang benar’?

 

RENUNGAN

Dalam Yakobus 5:16 pertama-tama mengajak kita saling mengaku dosa.  Mungkin ‘mengaku dosa’ selama ini hanya kita pahami sebagai mengaku dosa kepada Allah.  Yakobus mengingatkan kita untuk saling mengaku dosa.  Kata ‘saling’ disini berarti ada kemauan dari masing-masing pribadi untuk mengaku dosa.  Mungkin kata dosa menjadi sangat ‘berat’ untuk kita pahami dan bisa kita ganti dengan  kata ‘kesalahan’.  Pada kenyataannya kita lebih mudah mengaku dosa kepada Allah dari pada mengakui kesalahan  kepada sesama.  Hal ini karena  manusia  dikuasai ego dan kesombongan diri.  Untuk bisa mengaku dosa atau kesalahan kepada sesama kita harus merobohkan tembok kesombongan, gengsi, harus ada kerendahan hati memandang orang lain lebih utama dan ketulusan.  Terkadang itu sangat sulit kita lakukan.  Namun demikian hal ini tetap harus dan perlu kita lakukan karena ini adalah langkah awal untuk bisa saling mengampuni dan saling mendoakan agar kita sembuh dari luka-luka rohani kita.

Bila doa merupakan saluran dimana berkat dan anugerah Allah menjadi nyata,  maka bila kita berdoa sebelum kita mengaku dosa atau kesalahan kita maka doa-doa kita akan terhalang oleh kesombongan, rasa marah, dan ego bahkan doa kita bisa jadi seperti doa orang yang munafik.  Namun bila kita terlebih dahulu mengaku dosa maka doa kita adalah doa yang keluar dari kerendahan dan ketulusan hati.  Inilah yang dimaksud Yakobus doa orang benar.  Dan bila doa yang kita naikkan dengan kerendahan hati, ketulusan dan iman penuh kepada Allah maka doa itu akan menjadi doa yang besar kuasanya.  Contoh dari doa orang benar yang besar kuasanya (ay.17-18) adalah nabi Elia.  Elia adalah manusia biasa tetapi ia ‘orang benar’ maka ketika ia berdoa dengan sungguh-sungguh maka apa yang ia minta dalam doanya menjadi nyata.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering merasa malu dan gengsi untuk mengakui kesalahan terhadap orang lain apalagi kalau orang tersebut dari golongan berbeda atau tidak sepaham dengan kita.  Rasanya terlalu rendah bila kita harus mengakui kesalahan kita.  Namun dari firman Tuhan hari ini kita diajar bahwa sikap kita tersebut justru menghalangi doa kita kepada Tuhan,  karena kita belum mempunyai kerendahan hati dan ketulusan sebagai ‘orang benar’.  Marilah kita tanggalkan ego dan kesombongan dan dengan rendah hati kita belajar mengakui kesalahan kita dengan tulus kepada siapapun juga baik saudara seiman maupun mereka yang tidak sepaham atau  berbeda golongan.  Dari ketulusan maka doa-doa kita ‘agar kita bisa hidup damai dan rukun dalam bermasyarkat’ akan menjadi nyata.

 

Mengakui kesalahan bukan berarti kalah namun justru menang dalam menaklukan diri sendiri.  Pialanya adalah perdamaian dengan sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*