suplemenGKI.com

Ketika ketulusan dipertanyakan

1 Tesalonika 2:9-13 

Tidak ada jaminan bahwa bila kita melakukan hal yang benar maka jalan hidup kita tidak akan mengalami hambatan. Rasul Paulus telah melakukan pelayanan dengan gigih, tapi dia menghadapi rintangan yang dapat membuat darah mendidih. Bagaimana rasul Paulus menyikapi semuanya itu adalah suatu teladan yang patut kita renungkan bersama. 

-  Mengapa rasul Paulus  mengemukakan “kami bekerja siang malam”? Apakah yang dikerjakan rasul Paulus berkaitan dengan pernyataannya itu?

-  Mengapa rasul Paulus menegaskan bahwa apa yang disampaikannya adalah firman Allah dan bukan pendapatnya sendiri? 

Renungan:

Tesalonika adalah salah satu kota yang penuh dengan kenangan bagi rasul Paulus. Semua itu bermula dari kunjungan Paulus yang pertama ke kota Tesalonika, mungkin terjadi sekitar awal musim panas tahun 50 (Kis. 17:1-9). Seperti biasa, sesampainya di kota Tesalonika rasul Paulus mencari kesempatan untuk memberitakan Injil (Kis. 17:2). Seperti biasa pula, dari antara para pendengarnya, ada orang-orang yang kemudian percaya kepada Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 17:4 dicatat, “Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka.” Ini jelas tuaian besar yang seharusnya segera mendapatkan penanganan yang memadai. Tapi apa yang seharusnya itu tidak dapat diwujudkan, karena keberadaan rasul Paulus di kota Tesalonika tidak dapat berlangsung lama. Orang-orang Yahudi menjadi iri hati lalu mengadakan keributan dan kekacauan di kota Tesalonika. Hal ini dapat terjadi karena mereka dibantu oleh beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di pasar (Kis. 17:5). Maka dengan terpaksa Paulus meninggalkan Jemaat Tesalonika yang masih membutuhkan banyak bimbingan itu (1Tes. 3:10).

Dengan latar belakang situasi tersebut, nampaknya ada orang-orang yang karena ketidak-sukaannya terhadap rasul Paulus, menghembuskan isu bahwa apa yang dilakukan oleh Paulus itu adalah demi uang. Nampaknya pada waktu itu memang sudah biasa kalau para pembawa agama mendapatkan tunjangan dari komunitas yang dilayaninya. Akan tetapi rasul Paulus dengan tegas membantah hal ini dengan bekerja sebagai tukang pembuat tenda untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Semua ini menjadi teladan bagi Jemaat Tesalonika yang masih muda itu, tentang bagaimana seorang Kristen harus hidup dengan penuh tanggungjawab. Respon Paulus ini sangat penting mengingat di Tesalonika ada orang-orang yang merasa enggan untuk bekerja (bnd. 2Tes. 3:10). Dalam hal ini, rasul Paulus juga mengajarkan bahwa ketika ketulusan hati kita dipertanyakan, jawablah dengan keterbukaan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«