suplemenGKI.com

MELAYANI DALAM KERAMAHAN

I Tesalonika 2:7-8

 

Pengantar
Selamat pagi Bapak. Ada yang bisa dibantu?” Begitulah sapaan mbak-mbak dan mas-mas yang ada di bagian teller bank atau di customer service lembaga pelayanan lain. Hal yang sama juga terjadi pada saat masuk atau keluar pesawat. Para pramugari-pramugara juga memberi sapaan kepada penumpang dengan tersenyum dan sikap hormat.Keramahan bisa ditemukan di banyak tempat. Keramahan nampak dalam diri banyak orang. Keramahan itu nampak dalam tutur bahasanya yang baik, sikap dan perilakunya yang santun. Betapa menyenangkan, saat kita berjumpa dan bergaul dengan pribadi yang ramah dan bersahabat. Juga alangkah indahnya bila dalam gereja, orang saling menyapa dan melayani dalam keramahan. Marilah kita merenungkan apa yang diteladankan Paulus tentang hal ini.

Pemahaman

  • Ayat 7-8 : Apakah yang bisa kita teladani dari pelayanan Paulus kepada jemaat Tesalonika?
  • Ayat  8      : Mengapa Paulus sangat mengasihi jemaat Tesalonika? 

Paulus menjalani pelayanannya bagai seorang ibu bagi jemaat. Identifikasi diri tersebut terwujud dalam keramahan dan sikapnya yang penuh kasih. Ia merawat dan mengasuh jemaat seperti anak-anaknya sendiri. Ia berbagi Injil dan berbagi hidup dengan jemaat. Ia berusaha hidup saleh, adil dan tidak bercacat. Ia menasihati dan menguatkan hati seorang demi seorang.

Juga Paulus mengungkapkan sikapnya, yaitu motivasi dalam dirinya untuk memberitakan Injil seperti perbuatan “seorang ibu mengawasi dan merawati anaknya” (ay. 7). Bayangkanlah bagaimana seorang ibu yang mengasihi anaknya akan mencurahkan kasih sayang dengan ketulusan dan kemurnian yang akan mengarahkan dan mendidik anaknya ke jalan yang benar.

Paulus memandang jemaat Tesalonika sebagai saudara seiman sekaligus anak-anaknya. Ia sangat mengasihi jemaat. Paulus selalu ingin memberikan rasa kasih sayang dan kerinduan yang hangat. Bahkan ia rela dan sangat senang  berbagi hidup dengan mereka.

Ramah diharapkan menjadi sikap hidup para pelayan TUHAN. Keramahan diharapkan menjadi budaya dan pola-pola perilaku yang tetap dari seorang pelayan. Keramahan akan menjadi pola hidup sejauh para pelayan mampu menghargai sesama dengan segala keunikannya dan kekhasannya. Sikap ramah selalu terkait erat dengan ekspresi hati yang penuh kasih.

Refleksi
Dalam keheningan, ingatlah interaksi dan komunikasi dalam pelayanan sehari-hari. Apakah kasih dan keramahan selalu mewarnai? Bagaimanakah sikap kita kalau menghadapi teman yang sangat menjengkelkan atau keras kepala? Apakah tetap ada keramahan dan sikap penuh kasih?

Tekadku
Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk melayani-Mu dalam sikap ramah terhadap semua orang.

Tindakanku

  • Aku akan menyapa dengan hangat setiap orang yang kulayani
  • Aku akan melayani semua orang dengan penuh kasih, dalam kesabaran dan kelembutan sekalipun mereka menjengkelkan.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*