suplemenGKI.com

Jumat, 27 Maret 2020

26/03/2020

BELAJAR DARI PENGAMPUNAN-NYA

Mazmur 130:1-8

 

PENGANTAR
Ketahanan dan kekuatan fondasi bangunan diuji ketika gempa terjadi.  Bangunan itu tetap kuat berdiri atau malah sebaliknya, roboh dan rusak.  Demikian juga dengan kehidupan manusia, ada kalanya bangunan iman, kasih dan kesetiaan kita pada-Nya menjadi roboh saat menghadapi tantangan dan kesulitan hidup.  Kita gagal menjaga hidup.  Bagaimana pemazmur belajar dari pengalaman diampuni Tuhan?  Mari kita renungkan!

PEMAHAMAN

  • Ayat 1: Apa yang pemazmur lakukan kepada Allah?
  • Ayat 2-5: Apa yang pemazmur yakini dan harapkan dari Allah?
  • Ayat 7: Apa yang menjadi ajakan pemazmur agar umat melakukannya?
  • Sejauh mana kita belajar dari pengalaman diampuni untuk menjadikan diri kita lebih baik?

Mazmur 130 merupakan mazmur ratapan seorang yang berada dalam pergumulan dan pencobaan.  Pemazmur tahu bahwa tidak ada seorang pun dapat meluputkan diri dari hukuman dosa yang
Allah berikan.  Itu sebabnya pemazmur memilih untuk berharap kepada Allah yang berdaulat, sebab Dia menghukum (ayat 3) tetapi juga mengampuni (ayat 4).  Justru karena pemazmur mengenal kedaulatan Allah dan kasih setia-Nya, maka pemazmur pun memiliki keyakinan bahwa pengampunan Allah pasti akan diberikan setelah penghukuman-Nya. Bahkan pemazmur “menanti-nantikan TUHAN” seperti “pengawal mengharapkan pagi” (ayat 5).  Keyakinan inilah yang membuat pemazmur berani mengaku kesalahannya pada Allah.

Bukankah kebenaran tersebut juga menjadi pengalaman berulang dalam sejarah umat Tuhan (ayat 7)?  Berulang kali Israel tidak setia, berontak pada pimpinan Allah, berselingkuh dengan ilah-ilah bangsa-bangsa lain, sehingga Allah berulang kali menghukum tetapi juga mengampuni Israel.  Terbukti, kesetiaan-Nya yang kuat sesuai janji-Nya tetap diterima umat Israel (ayat 7, 8).   Pemazmur mengingatkan umat-Nya, untuk tetap berharap hanya pada-Nya tetapi juga mau belajar dari pengampunan-Nya agar menjadi umat yang lebih baik.

Perjalanan hidup tidak selamanya lurus. Ada kalanya kita gagal menjaga hidup.  Yang terpenting adalah bagaimana langkah saat gagal menjaga perjalanan hidup.  Apakah masih ada hati yang bersedia datang kepada Allah?  Apakah kita masih bersedia menerima teguran-Nya?  Allah yang menghukum adalah Pribadi yang juga kaya rahmat di dalam pengampunan-Nya.  Ia berkenan menerima kembali mereka yang datang “mengharap” pengampunan-Nya. Pengampunan selalu Allah berikan agar kita bisa menjalani hidup yang lebih baik.  Kebenaran ini menegaskan bahwa tidak ada pribadi lain yang bisa diharapkan, selain Allah.  Jadi apapun kondisi kita saat ini, apakah kita gagal menjaga hidup saat menghadapi tantangan dan kesulitan hidup?  Mari datang dan berharaplah pada Allah.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Kekayaan kasih dan rahmat-Nya melalui hukuman dan pengampunan-Nya saat kita gagal menjaga hidup, sesungguhnya memberi kesempatan yang luas bagi kita menjadi lebih baik.  Itulah harapan kita pada-Nya.

TEKADKU
Ya Tuhan, ajarkan aku menghargai hukuman dan pengampunan-Mu untuk menjadikan diriku menjadi pribadi yang lebih baik.  Ajarkan bagiku punya tekad yang kuat belajar dari pengampunan-Mu sehingga aku tidak mengulangi kesalahan dan kegagalan yang sama.

 

TINDAKANKU
Aku mau belajar dari kesalahan dan kegagalanku terkait dengan ……….. (sebutkan satu atau dua kesalahan dan kegagalan) supaya aku tidak mengulanginya lagi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«