suplemenGKI.com

TUJUAN ALLAH MEMILIH ORANG YANG DIANGGAP RENDAH (1)

1 Korintus 1:26-28

 

Pengantar

Ada beberapa nama orang-orang terkenal yang sama sekali tidak menonjol pada masa kecil mereka. Charles Darwin prestasinya sangat buruk di sekolah sehingga ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa kehadirannya akan memalukan keluarga. Guru dari Thomas Edison, penemu listrik, menyebutnya sebagai anak dungu. Orangtua si jenius, Albert Einstein, merasa sangat cemas terhadap prestasi Albert yang sangat rendah di sekolah. Ia hanya mendapat nilai baik dalam mata pelajaran matematika. Tapi lihatlah sekarang, orang-orang yang pernah dianggap rendah ini justru menjadi orang-orang yang berdampak bagi dunia. Bagaimana Allah memandang orang-orang yang dianggap rendah di dunia?

Pemahaman

  • Ayat 26          : Bagaimana keadaan manusia sebelum dipanggil oleh Tuhan?
  • Ayat 27-31    : Apakah tujuan Allah memilih orang-orang yang dianggap rendah oleh dunia?

Paulus mengatakan bahwa keadaan mayoritas jemaat Korintus dahulu sebelum dipanggil adalah orang yang dianggap rendaholeh dunia (ay. 26). Kata “tidak banyak” menunjukkan bahwa ada sebagian kecil dari jemaat Korintus yang dapat dikategorikan sebagai orang yang hebat menurut dunia, yaitu orang yang bijak, berpengaruh dan terpandang. Jadi, hanya sebagian kecil saja, sedangkan mayoritas adalah orang yang dianggap bodoh dan rendah. Tetapi orang-orang yang dianggap bodoh inilah yang dipilih oleh Allah.

Tujuan Allah memilih orang-orang yang dianggap bodoh oleh dunia yang pertama adalah supaya Allah bisa“mempermalukan” dan “meniadakan” orang-orang yang di anggap penting oleh dunia ini.Ungkapan “mempermalukan” tidak sekadar berhubungan dengan perasaan malu. Ungkapan ini merupakan ungkapan umum orang Yahudi yang menunjuk pada kemenangan yang diberikan Allah kepada orang benar atau tindakan Allah yang mengalahkan orang fasik. Bagaimana cara Allah mempermalukan orang-orang hebat tersebut? Di ayat 21a Paulus menerangkan bahwa hikmat dunia justru tidak dapat mengenal Allah. Di ayat 27-28 dia lebih menyoroti kelebihan-kelebihan duniawi yang justru menghalangi orang untuk percaya kepada Tuhan. Sama seperti orang-orang pada zaman Yeremia yang menganggap diri hebat dan tidak memerlukan Tuhan, demikian pula orang-orang yang “hebat” pada zaman Paulus cenderung tidak mau mengandalkan Tuhan. Sebagai akibat dari tindakan ini, mereka akan mengalami kekalahan. Mereka tidak mampu mengenal dan bersandar pada Allah, padahal pengakuan terhadap ketidakmampuan diri merupakan kekuatan yang besar. Maksud Paulus “meniadakan” adalah karena semua itu pasti akan lenyap.Paulus bermaksud menegaskan bahwa hal-hal yang dikagumi oleh dunia dan sebagian jemaat Korintus merupakan hal-hal yang tidak kekal. Semua itu pasti akan lenyap.

Refleksi

Renungkanlah: pernahkah kita mengganggap rendah atau bodoh orang lain, ataukah kita yang dianggap rendah oleh orang lain? Dan pahamilah apa yang akan kita terima sesuai dengan Firman yang kita renungkan hari ini.

Tekadku

Ya Tuhan, Ampunilah saya jika dalam hidup saya masih sering merasa diri hebat dan tidak mengandalkan Engkau dalam hidup ini dan saat saya menganggap rendah atau bodoh orang lain.

Tindakanku

Hari ini saya akan mengandalkan Tuhan dalam apapun yang saya kerjakan, bukan mengandalkan diri saya sendiri dan tidak meremehkan atau mengganggap rendah orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«