suplemenGKI.com

Allah Sumber Pengetahuan dan Kasih

I Korintus 8:1-13 

Korintus adalah kota yang letaknya sangat strategis, di jalur utama serta menjadi pusat ekonomi dan perdagangan antara negara-negara di sebelah Timur dan Barat.  Kota ini menjadi persinggahan banyak pedagang dari penjuru dunia.  Mereka bukan hanya berdagang tetapi juga mengembangkan kepercayaannya sehingga mempengaruhi kehidupan orang-orang Korintus.

  1. Persoalan apa yang terjadi di jemaat Korintus yang diceritakan di perikop ini? (ayat 4)
  2. Bagaimana Paulus menanggapi persoalan tersebut?  (ayat 5-7)
  3. Bagaimana Paulus menjelaskan konsep Allah kepada jemaat?  (ayat 4, 6)
  4. Bagaimana posisi Paulus terkait dengan persoalan tersebut?  (ayat 8, 9). 

PENDAHULUAN

Sama seperti bayi yang baru belajar berjalan, mudah jatuh dan ragu dalam melangkah; demikianlah gambaran jemaat Korintus yang tidak henti ditempa dengan beragam kesulitan.  Jemaat Korintus membutuhkan jawaban dan arahan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi.  Itu sebabnya Paulus mengirimkan suratnya, bahkan sampai dua kali.  Salah satu persoalan yang cukup pelik adalah mengenai boleh tidaknya, makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. 

Dalam suratnya, Paulus mempertemukan antara pengetahuan dan kasih sebagai orang beriman.  Pengetahuan bahwa   “segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (ayat 6).  Artinya, mereka meyakini bahwa hanya ada satu Allah yang memelihara kehidupan manusia melalui ciptaanNya. Jadi soal makan daging bekas persembahan berhala bukan suatu masalah.  Kehidupan beriman tidak pernah ditentukan atau dipengaruhi oleh makanan.  Dan berhala hanyalah benda mati yang tidak punya kuasa atas makanan sehingga tidak akan mempengaruhi kehidupan iman.  

Namun dalam nasihatnya, Paulus menekankan kehidupan iman yang saling membangun dalam kasih.  Kehidupan iman bukan hanya mengenai pengetahuan tentang Allah, tetapi juga merupakan pengalaman bersama Allah yang penuh dengan kasih. Pengalaman kasih dan mengasihi harus berjalan seiring dengan pengetahuan tentang Allah itu sendiri.   Sebab Allah adalah sumber pengetahuan dan kasih bagi orang percaya.  Maka di hadapan orang-orang yang masih memegang teguh keyakinan bahwa penyembahan berhala itu riil dan daging bekas persembahan itu tak boleh dimakan. Yang lebih kuat iman tidak boleh sengaja makan daging bekas persembahan, sebab tindakan itu akan menggoncangkan iman yang lemah. 

Apakah berarti kita mengkompromikan kebenaran dengan ketidakbenaran?  Tidak!  Prinsipnya adalah segala sesuatu diciptakan Allah bagi kehidupan, dan ini merupakan pengetahuan yang mendasari iman kita.  Iman tidak ditentukan/dipengaruhi oleh makanan.  Hanya karena makan itu iman kita bertambah;  hanya karena salah makan ini, iman kita berkurang.  Hal ini sama sekali tidak benar.  Persekutuan orang beriman harus menjadi tempat saling melengkapi dan membangun di dalam kasih. Ibadah yang benar bukan hanya bersifat individual-vertikal, mementingkan kepuasan persekutuan pribadi dengan Tuhan. Tapi juga perlu memperhatikan segi horisontalnya: saling mengasihi, memperhatikan, dan membangun, pun sama pentingnya.  

Allah adalah sumber pengetahuan yang menolong kita untuk hidup saling mengasihi

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*