suplemenGKI.com

Roma 4:13-25

IMAN YANG TERUJI

 

PENGANTAR
Dalam kehidupan sehari-hari, iman yang kita miliki seringkali diuji ketika kita menghadapi masalah, kesulitan hidup, sakit penyakit atau pengharapan akan janji Tuhan, dll.  Iman yang benar adalah tetap percaya, berpengharapan dan tetap semangat mengerjakan hal baikdi tengah-tengah situasi dan kondisi yang mustahil.  Bisakah kita memiliki iman seperti itu?  Mari meneladani Abraham dan nasihat rasul Paulus! PEMAHAMAN
Ayat 19-23      : Bagaimana iman Abraham diuji saat menanti janji Tuhan yang akan memberinya keturunan, sampai dia diperhadapkan dengan satu kenyataan usianya sudah lanjut?

Ayat 24-25      : Melihat perjalanan iman Abraham, bagaimana Paulus memberi nasihat bagi iman kita?

Bagaimana iman kita?  Apakah saat ujian itu datang iman kita bisa diperhitungkan sebagai kebenaran?

 

Menilik usianya yang sudah lanjut dan kondisi lahiriahnya sudah sangat terbatas, maka seharusnya Abraham tidak mungkin lagi mendapat keturunan (ay.19). Tetapi imannya tidak tergoyahkan, dia memegang teguh janji Tuhan Allah.  Abraham justru semakin kuat berharap akan kegenapan janji Allah itu meski kondisi dirinya tidak memungkinkannya mengalami kegenapan janji itu (ay.20-21). Atas dasar iman itulah dia dibenarkan Allah (ay.13).  Bukan hanya itu, penggenapan janji yang dialaminya karena beriman teguh itu menjadikan Abraham bapa banyak bangsa.  Ayat 17 “Engkau telah kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa”.  Dengan demikian, semua orang beriman dari segala bangsa di dunia ini dihisapkan menjadi keturunan Abraham.

Melihat perjalanan iman bapa Abraham maka Paulus menyatakan bahwa iman yang dimiliki Abraham ‘diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran’.  Lalu “Kata-kata ini, yaitu ‘hal ini diperhitungkan kepadanya’, tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita?”.  Kita beriman kepada pribadi yang sama seperti bapa Abraham.  Maka, menurut rasul Paulus iman yang kita miliki adalah iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran.

Yang perlu direnungkan adalah apakah iman kita sudah teruji saat menghadapi hal sulit seperti Abraham?  Saat menghadapi hal yang nampak mustahil seperti Abraham?  Iman yang sudah teruji adalah iman yang dapat diperhitungkan sebagai kebenaran, yaitu iman yang tak tergoyahkan di saat kemustahilan nampak di depan mata jasmani kita.  Iman yang diperhitungkan sebagai kebenaran melihat dengan mata hati yang tertuju kepada-Nya bukan pada kemustahilan.

 

REFLEKSI
Ujian terhadap iman kita pasti ada.  Iman yang sudah teruji tidak tergoyahkan di saat kemustahilan nampak di depan mata jasmani sebab mata hati hanya tertuju pada pribadi Kristus bukan pada kemustahilan.  Bagaimana iman kita?

 

TEKADKU
Aku mau memiliki iman yang teguh, yaitu iman yang teruji dan tetap kokoh di saat kemustahilan di depan mata jasmani.

 

TINDAKANKU
Menjaga mata hati agar senantiasa tertuju kepada-Nya bukan pada kemustahilan dalam hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«