suplemenGKI.com

JUMAT, 27 APRIL 2012

26/04/2012

MENGASIHI : GAYA HIDUP KRISTIANI

1 Yohanes 3: 11-24

 

PERTANYAAN PENUNTUN PEMAHAMAN ALKITAB

  1. Ayat 16: Apa yang menjadi alasan mengapa kehidupan yang penuh kasih begitu melekat dalam diri setiap orang Kristen?
  2. Ayat 14-15: Siapa yang menjadi sasaran kasih kita? (hub.dg. ay.12)
  3. Jika Anda membaca kembali ayat 1 dan 13, Yohanes berbicara tentang kehidupan orang Kristen dalam konteks dunia (general). Lalu mengapa di perikop ini Yohanes berbicara dalam konteks yang jauh lebih kecil/sempit, yaitu “saudara”? Pesan apa yang tersirat dalam tulisan Yohanes ini?
  4. Ayat 17-18: Apa yang menjadi klimaks penutup nasihat Yohanes di perikop ini? Bagaimana Anda memahami “menyatakan kasih dengan perbuatan dan kebenaran” dalam kehidupan Anda sebagai orang Kristen?

 

RENUNGAN

Kehidupan kristiani tidak dapat dilepaskan dari praktik ‘kasih’.  Praktik kasih ini harus terus melekat dalam diri setiap orang percaya, tidak bergantung pada perubahan-perubahan situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya.  Sama halnya dengan kasih yang melekat pada diri Allah yang membuat Allah menyerahkan Putra TunggalNya untuk mati bagi manusia berdosa. Kasih Allah yang seperti itulah yang menjadi dasar dari semua praktik kasih orang-orang Kristen.

Rasul Yohanes ingin mendaratkan praktik kasih tersebut dimulai dari konteks yang paling kecil yaitu saudara atau keluarga. Orang-orang yang paling dekat dengan kita adalah kelompok yang harus dapat merasakan perwujudan kasih yang ada pada diri kita. Hal ini menimbulkan sebuah tantangan bahwa jika dengan yang terkecil saja kasih kita tidak bisa dirasakan dan diwujudkan, apalagi untuk konteks kehidupan yang lebih besar, yaitu dunia atau orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Karena itu, kasih bukan hanya untuk diketahui atau diperbincangkan, melainkan harus diwujudnyatakan menjawab kebutuhan orang yang kita kasihi, mendatangkan syalom di antara kita. Namun janganlah lupa, perbuatan kasih kita harus sejalan dengan penyataan kebenaran. Karena kasih kita bukan kasih dari diri kita sendiri melainkan dari Allah, sehingga bagaimana pun manifestasi kasih kita kepada orang lain, pada akhirnya orang yang kita kasihi akan dituntun sampai pada kebenaran, mengenal Allah yang ada dalam diri kita. Jika ada pernyataan kasih yang justru menjerumuskan orang lain, maka perlu adanya koreksi atas kasih itu sendiri. Jika tidak ada pernyataan kasih, maka perlu adanya introspeksi kebenaran tentang keberadaan Allah dalam diri kita, sungguhkah ada Allah yang kita tempatkan dalam hidup kita?

 

Kasih tidak akan pernah dapat dirasakan keberadaannya bila belum terwujud dalam perbuatan dan kebenaran

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«