suplemenGKI.com

Jumat, 26 Maret 2021

25/03/2021

Markus 14:1-11

BERKORBAN ATAU MENGORBANKAN?

PENGANTAR
Secara sederhana, mutu atau kualitas hubungan kita dengan orang lain dapat dikelompokkan dalam dua kategori: berkorban atau mengorbankan. Ketika berhubungan dengan orang lain, kita dapat bersikap dan bertindak sebagai pihak yang rela berkorban demi kepentingan orang lain. Namun, kita juga dapat melakukan yang sebaliknya, mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Pengelompokan ini dapat diterapkan dalam relasi kita dengan orang lain di berbagai tempat: dalam keluarga, di gereja, di lingkungan pekerjaan, dan bahkan dalam relasi kita dengan Tuhan.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1-2, 10-11.  Di bagian ini kita bertemu dengan kelompok orang-orang yang mengorbankan Yesus demi kepentingan mereka sendiri. Siapa sajakah mereka, dan mengapa mereka melakukan hal itu?
  • Ay. 3-9                  Di bagian ini kita bertemu dengan seseorang yang rela berkorban bagi Yesus? Siapakah dia, dan mengapa ia melakukan hal itu?

Di ayat-ayat 1-2, dan 10-11, kita bertemu dengan kelompok orang-orang yang mengorbankan Yesus demi kepentingan mereka sendiri. Mereka adalah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan Yudas. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat memendam kemarahan dan kebencian kepada Yesus karena Yesus mengusik otoritas mereka sebagai pemimpin agama (lihat Mar. 11:27-28, 12:12). Karena itu mereka berusaha menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat (ay. 1). Mereka sangat gembira ketika Yudas menyatakan maksudnya untuk menyerahkan Yesus kepada mereka (ay. 10-11). Ada berbagai dugaan mengenai alasan Yudas mengkhianati Yesus. Ada yang menduga bahwa Yudas kecewa terhadap Yesus karena ternyata Yesus bukan seorang pemimpin politis seperti apa yang diharapkannya. Ada yang menduga Yudas kecewa karena Yesus pilih kasih, lebih akrab dengan Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Markus hanya menyebutkan bahwa Yudas akan menerima imbalan berupa uang (ay. 11). Apa pun alasannya, mereka semua berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mengorbankan Yesus. Ironisnya, sikap mengorbankan orang lain ini justru ditunjukkan oleh orang-orang yang memiliki posisi terhormat: para pemimpin agama dan Yudas, salah seorang murid Yesus.

Di ayat 3-9, kita bertemu dengan seorang perempuan yang rela berkorban untuk menunjukkan rasa hormat, kasih, dan perhatiannya kepada Yesus. Perempuan ini rela mengorbankan miliknya yang sangat berharga, yaitu minyak narwastu yang murni. Ia memecahkan leher buli-buli minyak narwastu itu, dan mencurahkan minyak itu ke kepala Yesus. Dengan memberikan seluruh minyak itu, tanpa tersisa, ia menunjukkan totalitas dan kesungguhan hatinya dalam berkorban. Ia juga harus berkorban perasaan karena orang-orang di sekitarnya justru mencela tindakannya dan memarahinya (ay. 4-5). Yesus pun membela dia dan memuji apa yang dilakukannya (ay. 7-8). Yesus bahkan menegaskan bahwa dengan bertindak demikian, perempuan ini telah mengambil bagian dalam karya keselamatan yang dilakukan-Nya (ay. 8-9).

REFLEKSI
Tanpa kerelaan untuk berkorban, tidak mungkin kita mengambil bagian dalam karya-Nya.

TEKADKU
Tuhan, tolonglah aku agar mampu menyatakan kasihku kepada-Mu, khususnya pada waktu aku harus mengorbankan kepentinganku demi melakukan kehendak-Mu.

TINDAKANKU
Hari ini aku akan mengucapkan terima kasih minimal kepada tiga orang yang telah mengorbankan kepentingan mereka demi aku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«