suplemenGKI.com

Jumat, 26 Juli 2013

25/07/2013

Kolose 2:6-15

 

Pengampunan Melalui Salib Menyatukan Keadilan Dengan Kasih

 

Pengantar
Pernahkah Saudara menghadiri sebuah persidangan di pengadilan dan melihat pemandangan di mana si terdakwa sedang duduk tertunduk dengan raut sedih dan gelisah menantikan vonis yang akan dijatuhkan oleh sang hakim yang sedang membacakan keputusannya. Akhirnya terdengar suara berat sang hakim: “Saudara dijatuhi hukuman kurungan selama 10 tahun dipotong masa tahanan”. Dok! palupun diketukkan ke meja hijau oleh sang hakim sebagai tanda vonis hukuman telah menjadi sah. Pada umumnya penegakan keadilan terkait erat dengan penetapan hukuman. Suasananya muram, seakan memupus harapan, apalagi jika hukuman yang ditetapkan melebihi tuntutan jaksa. Tentu suasananya akan menjadi berbeda jika si terhukum memperoleh keringanan hukuman atau pengampunan apalagi sampai divonis bebas.

Pemazmur menggambarkan Allah sebagai seorang Hakim yang bersemayam selama-lamanya, takhtaNya didirikanNya untuk menjalankan penghakiman (Mazmur 9:7). Namun pemazmur juga menggambarkan bahwa “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, .. “ (Mazmur 103:8, 10). Dengan dua karakter inilah kita mengenal Allah Bapa sebagai Tuhan Yang Maha Adil sekaligus Maha Kasih. Sebagai Hakim yang adil Ia harus menghukum manusia yang berdosa namun karena kasihNya yang begitu besar Ia mengampuni manusia dan menanggung dosa manusia melalui karya PutraNya, Tuhan kita Yesus Kristus di atas kayu salib.

Pemahaman
Ayat 6-8               : Bagaimana seharusnya sikap seorang percaya yang telah menerima Kristus?

Ayat 9-10             : Siapakah Kristus berdasarkan kedua ayat ini?

Ayat 11-12           : Apa makna “sunat” yang dilakukan oleh Kristus (ayat 11) dan apa pula makna “baptisan” kita (ayat 12)?

Ayat 13-15           : Melalui kedua ayat ini, bagaimana cara Allah menghapuskan “hukuman mati” yang seharusnya kita tanggung akibat pelanggaran-pelanggaran kita?

Refleksi
Bagaimana Allah, sebagai Hakim yang Maha Adil dan sekaligus Bapa yang Maha Kasih dapat tetap menegakkan keadilan namun sekaligus menyatakan kasihNya?

Tekad
Belajar agar mampu semakin menghayati pengampunan dari Allah Bapa melalui Karya Sang Putra di atas Kayu Salib yang telah mempertemukan keadilan yang harus ditegakkanNya di satu sisi dengan kasihNya yang membebaskan kita dari ‘hukuman mati” di sisi yang lain.

Tindakan
Tidak menyia-nyiakan pengampunan yang telah diberikanNya kepadaku melalui ketaatan dan penyerahan total hidupku bagi kemuliaanNya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«