suplemenGKI.com

TAK BERHENTI BERHARAP

Mazmur 22:1-25

 

PENGANTAR
Kita telah melewati pandemi Covid-19 hampir setahun.  Di satu sisi pandemi memberi dampak baik seperti terbangunnya kebersamaan keluarga, terciptanya kemandirian ibadah, serta pentingnya menjaga kebersihan, dll.  Memang kita akui, lebih banyak menimbulkan dampak buruk seperti kehilangan pekerjaan, usaha tersendat-sendat bahkan ada yang harus kehilangan orang-orang yang dikasihi.  Mungkin saudara adalah salah satu dari jutaan orang yang mengalami dampak buruk.  Kehidupan terasa terpuruk hingga hari-hari diwarnai kesedihan dan perjuangan berat.  Apakah saudara berhenti berharap?  Bacaan hari ini mengajak kita melihat bagaimana pemazmur tidak berhenti berharap menjalani hidup penuh persoalan.  Mari kita merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Bagaimana gambaran pergumulan pemazmur? (ayat 7-8, 13-19)
  • Apa bukti pengharapan pemazmur? (ayat 20-25)
  • Apapun persoalan yang saudara hadapi, maukah saudara bangkit & berharap?

Perikop yang kita baca hari ini memperlihatkan bagaimana pemazmur memaparkan pergumulan hidup yang berat seolah tiada berkesudahan.  Pemazmur menjerit kepada Allah karena penderitaan berat.  Alasan mengapa menderita diungkapkan dalam rangkaian mazmur ini; dia dicela, dihina, diolok-olok dan dicibir orang-orang yang melihatnya (ayat 7-8).  Bahkan seolah dirinya berada di tengah-tengah binatang liar tidak terkendali dan buas yang mengerumuni, mengepung dan siap menerkam hidupnya (ayat 13-14, 17).  Begitu dahsyatnya penderitaan itu sampai digambarkan segala tulangnya terlepas dari sendinya, bahkan menghancurkan hatinya (ayat 15).  Mazmur ini juga merupakan nubuat yang sudah digenapi dalam diri Yesus Kristus di atas kayu salib.

Sebagai manusia pemazmur mengakui sempat berada dalam ketegangan iman, tetap percaya atau meragukan Allah (ayat 2).  Pemazmur berseru, namun dia merasa Allah tetap jauh dan tidak menjawab, seakan-akan menolak dan membuang dia (ayat 3-4).  Apakah ketegangan iman itu berlanjut pada keputusasaan dan berhenti berharap?  Tidak!  Pemazmur bangkit dan kembali berharap.  Dia percaya Allah memberi kekuatan dan pengharapan kepadanya.  Pemazmur melanjutkan doanya dengan seruan disertai keyakinan dalam hatinya.  Sebagai bukti tidak berhenti berharap maka pemazmur memohon sekali lagi agar Tuhan segera menolongnya (ayat 20-22).

Tetapi bukan hanya memohon pertolongan, pemazmur juga memuji Allah untuk pertolongan yang akan dia alami.  Sebagai wujud imannya, dia mengajak anak cucu Israel memuji-muji Allah yang setia itu (ayat 23-24).  Pada akhirnya, pemazmur berkata di ayat 25 “Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya”.  Dia meyakini bahwa Tuhan tidak melupakan atau membuang dirinya, bahkan sebaliknya akan mendengar dan menolongnya.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Apa kesulitan saudara hari ini?  Mari melihat hati, masihkah berharap kepada Allah?  Masihkah saudara yakin kehadiran-Nya dekat, mendengar, memperhatikan dan menolong?  Mari tidak kehilangan iman dan pengharapan, melainkan percaya penuh akan kasih setia-Nya.

TEKADKU
Ya Tuhan tolonglah, dalam persoalan dan kesulitan hari ini aku mampu tidak berhenti berharap.  Tolonglah agar aku kembali semangat karena meyakini pertolongan-Mu.

TINDAKANKU

  • Aku mau meminta ampun kepada Tuhan sebab saat mengalami kesulitan, seringkali aku mempertanyakan kehadiran, kasih dan pertolongan-Nya
  • Aku mau kembali beriman dan tak berhenti berharap, yang aku wujudkan dengan tekun berdoa, bersyukur dan terus berupaya menjalani hidup dengan semangat
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«