suplemenGKI.com

Ibrani 13:15-16.

 

Kasih Persaudaraan Sebagai Persembahan.

Pengantar:
Tidak jarang orang berpikir jika sudah melakukan ritual ibadah dengan baik, teratur, taat dan setia berapa kalipun dalam sehari, maka sudah merasa hidup ini beres segala-galanya. Dengan kata lain yang penting hubungan atau relasi dengan Tuhan baik, bagus dan banyak maka kemudian hubungan atau relasi dengan sesama sudah tidak terlalu penting lagi. Itu sebabnya tidak sedikit orang yang rajin pelayanan, banyak memberi persembahan ke gereja lalu merasa tidak perlu peduli dengan sesama. Bahkan ada juga yang berani mengabaikan hak sesama yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya. Misalnya tidak memberi atau menbayar kepada sesama sesuai dengan yang seharusnya. Itu berarti mengabaikan kasih persaudaraan sebagai persembahan.

Pemahaman:

  1. Apakah makna nasihat penulis Ibrani dalam bentuk ajakan pada Ibrani 13:15?
  2. Mengapa penulis Ibrani mengaitkan antara memberi bantuan dengan korban yang berkenan kepada Allah? (v. 16)

Kemarin kita belajar bahwa Hospitalitas-keramahtamahan, Philadelphia-kasih persaudaraan, itu bisa dilakukan dalam berbagai bentuk: perbuatan baik, kepeduliaan, perhatian dan ucapan. Harus dipahami, bahwa baik itu Hospitalitas maupun Philadelphia yang sesungguhnya adalah muncul di antara sesama orang percaya yang telah dipersatukan dalam kematian Tuhan Yesus. Itu sebabnya penulis Ibrani mengaitkannya dengan mempersembahkan korban syukur kepada Allah. Yang berarti apapun yang kita lakukan sebagai keramahtamahan dan kasih persaudaraan kepada sesama kita, itu adalah suatu persembahan korban syukur kepada Allah. Dengan penghayatan demikian, maka setiap ucapan kita kepada sesama mestinya menyenangkan Allah, dan membangun sesama bukan justru menyakiti sesama, sehingga ia semakin jauh dengan Allah.

Bagaimana dengan berbuat baik dan memberi bantuan! Dalam PL, umat Allah dituntut untuk memberikan korban persembahan kepada Allah harus hewan yang terbaik dan tak bercacat. Tujuannya agar berkenan kepada Allah. Ibr 13:16, penulis mengaitkan berbuat baik dan memberi bantuan kepada sesama itu setara dengan korban-korban yang berkenan kepada Allah di PL. Hal itu mengingatkan bahwa ketika kita melakukan perbuatan baik dan memberi bantuan kepada sesama, harus dilandasi dengan penghayatan bahwa kita sedang melakukannya untuk Allah, sehingga kita tidak melakukan sekedarnya, sebisanya atau dengan sikap hati yang merendahkan pihak yang dibantu, tetapi penuh syukur kepada Allah.

Refleksi:
Renungkanlah, apakah ketika kita berelasi, berbuat baik, memberi bantuan kepada sesama kita hayati sebagai persembahan kepada Allah?

Tekad:
Tuhan, ampuni aku jikalau selama ini aku tidak menghayati perbuatan baik, memberi bantuanĀ  kepada tehur-sapa dengan sesama adalah sebagai persembahanku kepada-Mu.

Tindakkan:
Saya mau belajar, apapun yang saya lakukan kepada sesama adalah persembahan kepada-Mu.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«