suplemenGKI.com

BAHAYA PERPECAHAN DALAM JEMAAT

1 KORINTUS 1: 10-17

 

Setelah menyampaikan salam dan memanjatkan syukur, Paulus langsung membahas salah satu masalah penting dalam jemaat ini: bahaya perpecahan. Rupanya setelah Paulus meninggalkan kota ini ada beberapa pengajar dan pengkhotbah yang datang melayani jemaat ini. Di antara mereka termasuk Apolos – seorang pengkhotbah muda yang berbakat – dan Kefas yang juga lebih dikenal sebagai Petrus. Di kalangan jemaat ini, mereka masing-masing mempunyai “penggemar” mereka sendiri. Sayang sekali, perkembangan lebih lanjut justru menjurus kepada gejala yang tidak sehat, yaitu terbentuknya golongan-golongan di dalam jemaat.

 

PERTANYAAN PENUNTUN PEMAHAMAN ALKITAB

  1. Ayat 10: Paulus menegaskan bahwa nasihatnya ini diberikan “demi nama Tuhan Yesus Kristus.” Mengapa hal ini perlu ditegaskan?
  2. Ayat 11-12: Menurut Anda, apakah gejala perpecahan semacam ini dapat terjadi pada gereja masa kini? Apa kesimpulan Anda? Dan bagaimana mencegahnya?
  3. Ayat 13-16: Perhatikan cara Paulus memberikan nasihat untuk menyatukan kembali golongan-golongan yang sudah terlanjur terbentuk itu. Hal apa saja yang dapat kita pelajari dari cara Paulus ini?
  4. Ayat 17: Apa yang ditegaskan Paulus dengan kalimatnya ini? Sebutkanlah minimal dua hal. Bagaimana Anda menerapkan dua hal tersebut dalam pelayanan Anda?

 

RENUNGAN

Seperti diuraikan kemarin, jemaat Korintus sedang dirundung berbagai persoalan, baik yang bersifat eksternal maupun internal. Di antara kedua macam masalah ini, ternyata Paulus memilih untuk lebih dahulu membahas yang bersifat internal, yaitu ancaman perpecahan. Sebuah pilihan yang bijaksana, bukan? Jika anggota jemaat tidak dapat bersatu, bagaimana mungkin mereka mampu menghadapi tantangan-tantangan dari luar?

Terbentuknya golongan-golongan di dalam sebuah jemaat merupakan gejala yang sangat berbahaya. Selain mempunyai tokohnya masing-masing, di dalam golongan-golongan semacam ini sering kali juga terselip kepentingan-kepentingan pribadi. Golongan-golongan semacam itu sesungguhnya merupakan benih-benih perpecahan dan karenanya harus segera diatasi. Harus diakui, bahwa upaya menghilangkan golongan-golongan semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan jika ketika hal semacam ini terjadi di gereja modern, sering kali akan berujung pada perpecahan. Untuk mencegah dan mengatasinya diperlukan kesungguhan dan kerja sama, baik dari pihak pemimpin maupun anggota jemaat.

Daalam bacaan hari ini, ada dua hal yang dilakukan Paulus untuk mengatasi perpecahan dalam jemaat. Pertama, Paulus mengajak jemaat untuk menempatkan Yesus Kristus di tempat yang seharusnya, yaitu sebagai pusat dari semua kegiatan ibadah dan pelayanan kita. Tidak ada tokoh, pendeta atau pemimpin – sebagaimanapun hebat kharismanya – yang dapat menggantikan sentralitas Kristus dalam hidup bergereja. Jika sentralitas Kristus digeser, perpecahan akan segera terjadi. Kedua, Paulus mulai dari dirinya sendiri. Secara terbuka Paulus menolak dirinya ditokohkan dan diidolakan. Sungguh tidak mudah bersikap dewasa seperti ini.

 

Dalam hidup bergereja, jika sentralitas Yesus Kristus tergusur, maka perpecahan akan segera terjadi.

 

 

 

 

 

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*