suplemenGKI.com

Jumat, 24 Juli 2020

23/07/2020

Matius 13 : 31-33 ; 44-52

MENGHADIRKAN KERAJAAN ALLAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

Pengantar
Kerajaan Allah adalah suatu tatanan dimana Allah berkerajaan, memerintah di dalam hati setiap umat  Tuhan dan umat Tuhan mengekspresikan hal itu keluar dari hidupnya, menyebarkan pengaruhnya dan membawa dampak kepada suatu masyarakat.

Hal ini sama dengan kerinduan Tuhan agar kerajaan-Nya nyata di muka bumi melalui gereja-Nya atau umat-Nya. Mereka harus menghadirkan kasih, damai sejahtera, keadilan dan pengharapan di tengah-tengah situasi jaman sekarang.

Untuk itu marilah kita memperhatikan renungan hari ini.

Pemahaman

  1. Apa yang ingin dipesankan Tuhan Yesus melalui perumpamaan biji sesawi, ragi, harta terpendam, mutiara yang berharga dan pukat ?                               ( ayat 31-33;44-52 )
  2. Bagaimana tanggung jawab umat beriman dalam menghadirkan kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari ?

Secara eksplisit Matius menyatakan bahwa biji (benih) sesawi adalah yang paling kecil dari semua benih yang lain ( 32). Namun ketika biji/benih tersebut di tanam, dikemudian hari akan tumbuh menjadi pohon sesawi yang sangat besar sehingga segala macam burung dapat bersarang atau bernaung dicabang-cabangnya. Kehadiran Kerajaan Allah juga seperti biji sesawi, artinya dimulai dari hal yang kecil berkembang menjadi besar, sehingga dapat menjadi naungan bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Hal yang berbeda diungkapkan Matius bahwa hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi (33), yang diambil seorang perempuan dan diadukkan dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. Satu sukat kira-kira 13,13 liter, tiga sukat berarti 33 liter tepung. Kita dapat melihat bahwa meskipun ragi itu kecil namun dapat mempengaruhi semua adonan. Jadi Tuhan Yesus ingin menekankan bahwa kehadiran kerajaan Allah, walaupun kecil harus mampu mempengaruhi kehidupan yang ada disekitarnya.

Sedangkan perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga adalah paralel. Kedua orang tersebut rela menjual semua hartanya supaya mendapatkan barang yang mereka harapkan. Jika harta yang terpendam dan mutiara yang berharga itu adalah Kristus, maka mereka harus rela melepaskan apa yang mereka miliki demi memiliki Kristus sang harta yang sangat berharga. Memiliki Kristus berarti rela membayar harga.

Sedangkan perumpamaan tentang pukat hendak menyuarakan bahwa pada suatu hari kelak akan dilaksanakan penghakiman yang terakhir. Sebelum penghakiman terakhir terjadi maka setiap umat percaya harus pergi dan melakukan tugas sehari-hari bersaksi, menyatakan kasih dan damai Allah, kepada teman-teman, saudara-saudara, siapapun dia ingatkan secara terus menerus akan perlunya iman dan pertobatan. Agar supaya mereka siap menyambut hari penghakiman dimana akan diadakan pemisahan antara yang beriman kepada Kristus dan yang tidak beriman.

Refleksi
Marilah kita mengambil saat hening sejenak dan merenungkan : – Untuk memiliki Kristus, bersediakah anda membayar harga ? Kristus yang anda miliki seharusnya dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah anda menghadirkan Kristus di lingkungan anda ?

Tekadku
Ya Tuhan ampunilah saya, kalau selama ini saya menyimpan Kristus, hanya untuk diri saya. Sekarang tolonglah saya supaya saya dapat menghadirkan Kristus di lingkungan saya.

Tindakanku
Saya harus berani menghadirkan kasih, damai sejahtera, keadilan, (Kerajaan Allah) di lingkungan saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«