suplemenGKI.com

DIBENARKAN OLEH IMAN

Roma 4:1-12

 

Pengantar
Bagian ini memiliki proposisi yang sama dengan Roma 3:27-31, yaitu pembenaran oleh iman meniadakan kemegahan manusia (3:27). Kesamaan tema inilah yang menghubungkan dua bagian ini. Paulus mendukung pendapatnya bahwa orang dibenarkan bukan oleh usaha atau perbuatannya melainkan oleh iman. Untuk memperkuat argumentasinya itu Paulus menampilkan tokoh Perjanjian Lama yaitu Abraham dan Daud. Keduanya adalah orang Yahudi dan merupakan tokoh yang sangat dihormati oleh orang Israel. Abraham adalah nenek moyang Israel, hidup jauh sebelum Musa dan sebelum pemberian hukum Taurat. 

Pemahaman

  • Ayat 1-8 : Apakah dasar bahwa Abraham dibenarkan oleh karena iman, bukan karena perbuatan? Apa makna kata ‘diperhitungkan’ dalam ayat 3?
  • Ayat 9-12   : Apa hubungannya tentang sunat dengan Abraham yang dibenarkan oleh iman?

Paulus membuktikan bahwa Abraham adalah bapa semua orang (bukan hanya bangsa Yahudi, ay. 12, 16-18). Abraham yang diagung-agungkan bangsa Yahudi sebagai model yang dibenarkan karena perbuatan ternyata juga termasuk dalam prinsip tentang pembenaran iman (Rm. 3:26-27). Ia tidak memiliki alasan apapun di hadapan Allah untuk bermegah (Ay. 2). Paulus memakai Kejadian 15:6 untuk membuktikan bahwa Abraham dibenarkan pada saat ia percaya pada janji Allah. Ayat 4-5 berfungsi menerangkan kata ‘diperhitungkan’ yang ada di ayat 3. Paulus membuat kontras antara hutang/hak dan hadiah. Orang yang bekerja menerima upah sebagai haknya, karena ia telah berusaha mendapatkannya. Mengingat pembenaran orang berdosa diberikan melalui iman (tanpa perbuatan), maka pembenaran tersebut merupakan anugerah Allah (Ay. 5).

Di ayat 10 Paulus mengingatkan bahwa Abraham disunat (Kej. 17) setelah ia dibenarkan oleh Allah (Kej. 15:6). Interval waktu antara dua teks tersebut diperkirakan sekitar 29 tahun. Setelah itu Paulus baru menjelaskan hubungan antara sunat dan pembenaran. Apakah guna sunat dalam pembenaran? Jawaban Paulus berakar dari ucapan Allah di Kej. 17:11, “Itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu”. Sunat hanyalah meterai atau tanda dari kebenaran oleh iman yang sudah diberikan Allah sebelum ia bersunat. Implikasinya adalah karena Abraham disunat sebagai tanda ia sudah dibenarkan, maka ia juga menjadi bapa bagi orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham (Ay. 12). Dengan kata lain, yang penting adalah iman.

Refleksi
Renungkanlah: Adakah kita memiliki iman yang teguh kepada Tuhan di tengah begitu banyak cobaan, godaan, tantangan dan himpitan yang melanda kehidupan kita seperti iman yang dimiliki Abraham?

Tekadku
Ya Tuhan, tolong saya untuk bisa mengatasi masalah yang saya hadapi dengan iman yang teguh dan bertindak sesuai dengan kehendak-Mu saja.

Tindakanku
Saya tidak akan marah atau kecewa kepada Tuhan ketika ada masalah yang menghampiri, karena saya percaya dengan masalah itulah iman saya bisa bertumbuh di dalam Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«