suplemenGKI.com

Jumat, 22 Juni 2018

21/06/2018

KUNCI HADAPI BADAI

2 Korintus 6:1-7

 

PENGANTAR
“Badai” merupakan istilah simbolis yang umum dipakai untuk melambangkan situasi kehidupan yang diwarnai dengan berbagai persoalan.  Berkaitan dengan ‘badai’ kehidupan, ada beragam respons yang ditunjukkan masing-masing pribadi dalam menghadapinya.  Misalnya, ada orang yg menghadapi dengan sungut-sungut tetapi ada orang yang bisa menjalani dengan sabar.  Ada orang yang putus asa tetapi ada orang yang tetap semangat dengan sepenuhnya percaya dan bersyukur kepada-Nya.  Bagaimana diri kita?  Mari belajar dari Paulus dalam memberi respons atas ‘badai’ kehidupan yang dihadapi. 

PEMAHAMAN

  • Apa kunci rasul Paulus dalam menghadapi ‘badai’ kehidupan? (ayat 1-2)
  • Identitas seperti apa yang disadari Paulus atas dirinya? (ayat 4)
  • Respons seperti apa yang kita tunjukkan ketika menghadapi ‘badai’ kehidupan?

Dalam perikop yang kita baca hari ini memperlihatkan bagaimana rasul Paulus mengisahkan pengalamannya menghadapi ‘badai’ kehidupan yang digambarkan sebagai penderitaan, kesesakan dan kesukaran (ayat 4).  Sebagai seorang rasul, dia pernah didera, dipenjarakan, diusir oleh massa dengan cara brutal dan terombang-ambing di tengah laut hingga karam kapal (ayat 5).  Namun, pada akhirnya rasul Paulus tetap setia, gigih dalam mengerjakan pekerjaan yang Tuhan perintahkan hingga membawa banyak jiwa datang kepada-Nya.

Lalu apa yang menjadi kunci rasul Paulus dalam menghadapi ‘badai’ dalam hidup dan pelayanannya?  Pertama, Percaya kasih karunia Allah terus menyertai dalam perjalanannya.  Ay.1 menyatakan “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah”  Rasul Paulus sadar bahwa hidup dan pelayanannya merupakan kasih karunia-Nya.  Tekadnya adalah dia tidak membuat sia-sia kasih karunia Allah yang memanggil diri-Nya sebagai pelayan untuk dikalahkan oleh ‘badai’ kehidupan.  Sebab dia sadar jiwa yang mengenal Injil keselamatan jauh lebih berharga.  Dia juga percaya bahwa kasih karunia Allah pasti terus dinyatakan dalam menghadapi ‘badai’.  Firman yang menjadi keyakinannya “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau” (ayat 2).  Kedua, Menyadari dirinya sebagai pelayan Allah.  Sebagai pelayan, dia bertekad untuk menunjukkan keluhuran kualitas diri seorang pelayan.  Sekalipun menderita, mengalami kesesakan dan kesukaran (ay.4-7), Paulus menahan itu semua dengan penuh kesabaran.  Bukan dengan cara sungut-sungut, putus asa atau marah kepada Tuhan.  Tidak juga membalas perlakuan kasar dan jahat yang telah mengarah kepada dirinya.  Dia sadar hidupnya sebagai pelayan Allah dan percaya kasih karunia-Nya menyertai di sepanjang perjalanan.

REFLEKSI
Mari hening: Apakah saudara sedang berada dalam ‘badai’ kehidupan?  Yakinilah kasih karunia Allah akan terus menyertai perjalanan.  Salah satu wujud kualitas diri adalah bertahan dalam kesesakan & kesukaran.

TEKADKU
Tuhan tolonglah agar aku bisa mewujudkan kualitas diri: tidak mudah bersungut-sungut, mengeluh, marah atau putus asa jika ada ‘badai’ dalam hidup dan pelayanan.  

TINDAKANKU
Aku mau melatih diriku.  Satu hari ini aku belajar tidak mengeluh, marah atau bersungut-sungut saat ada ‘badai’ dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«