suplemenGKI.com

Jumat, 22 Juni 2012

21/06/2012

2 Korintus 6:11-13

Membuka Hati Bagi Orang Lain

Salah satu faktor yang menentukan bagaimana hubungan dan kerjasama (dalam dunia kerja, keluarga atau pelayanan) dengan orang lain berjalan baik adalah keterbukaan. Saling membuka diri untuk berelasi dan bekerjasama adalah faktor yang penting.  Bahkan hubungan dengan orang lain dan kerjasama akan terjalin diawali adanya keterbukaan.

Pertanyaan Penuntun:

  1. Dalam pelayanannya yang penuh kecurigaan dari jemaat Korintus, hati seperti apa yang dimiliki Paulus? (ayat 11)
  2. Apa yang Paulus nasihatkan kepada jemaat Korintus agar hubungan dan kerjasama pelayanan itu bisa terjalin? (ayat 12-15)
  3. Bagaimana hubungan dan jalinan kerjasama saudara dengan orang lain?
  4. Apakah saudara sudah membuka hati selebar-lebarnya bagi orang lain?

 

RENUNGAN

Dalam pelayanan, khususnya di Korintus Paulus banyak sekali mengalami hambatan karena kecurigaan dari jemaat yang dilayani.  Mereka meragukan kerasulan Paulus dalam hal kemurnian hati dalam pelayanan, Paulus dianggap mencari keuntungan untuk diri sendiri, juga dianggap hanya berani bicara melalui surat tetapi tidak tegas ketika bertatapan muka, dll.  Sehingga kecurigaan itu menjadi menjadi tembok pemisah hubungan dan jalinan kerjasama dalam pelayanan.  Padahal pada masa awal pelayanannya, jemaat menerima diri dan pengajaran Paulus dengan baik tanpa kecurigaan.  Namun hubungan baik itu dapat berubah menjadi permusuhan oleh kesalahpahaman, kurang pengertian atau tidak adanya keterbukaan.  Dalam pelayanannya rasul Paulus mengalami hal itu.

Jemaat Korintus ragu tentang kemurnian hati Paulus dalam pemberitaan Injil.  Kecurigaan itu tercampur oleh kecenderungan jemaat menilai hamba Tuhan menurut penilaian duniawi (bdk. I Kor. 3).  Rupa-rupanya ada sekelompok pengajar yang menjelek-jelekkan Paulus.  Untuk mengatasi hal ini, rasul Paulus mengajak jemaat membuka diri (ayat 11-12).  Sikap membuka diri dan menyediakan tempat bagi orang lain dalam hati, itu diawali terlebih dulu dari dalam diri Paulus.  Paulus berkata “Hai orang Korintus!  Kami telah berbicara terus terang kepada kamu, hati kami terbuka lebar-lebar bagi kamu.  Dan bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami,…” (ayat 11-12a).  Keterbukaan diri dan hati itu dibuktikan Paulus dalam pelayanan.  Namun karena Paulus merasakan bahwa jemaat kurang membuka hatinya maka dia berkata “tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu” (ayat 12b).  Maka sebaliknya Paulus mengajak jemaatnya untuk membuka diri dan hati seluas-luasnya bagi dirinya, pelayanan dan orang lain.  Nasihat Paulus “maka sekarang, supaya timbal balik, … bukalah hati kamu selebar-lebarnya” (ayat 13b).  Paulus memandang sikap ‘membuka hati’ bagi orang lain itu sangat penting agar dalam menjalin hubungan dan kerjasama tanpa ada kecurigaan yang berlebihan sehingga menghambat kinerja dalam pelayanan.  Paulus terlebih dulu membuktikan dalam hidup dan pelayanannya.

Siapapun kita maka sikap terbuka atau membuka diri dan hati selebar-lebarnya bagi orang lain dalam bekerja dan melayani Tuhan, itu sangat diperlukan.  Hal itu untuk mencegah adanya kesalahpahaman, kecurigaan atau pikiran negatif, terpecahnya kerjasama, dll.  Sehingga kinerja dan kehidupan pelayanan dapat berjalan dengan baik.  Dan itu seharusnya dimulai dari diri sendiri bukan menuntut dari diri orang lain.  Selamat membuka hati selebar-lebarnya bagi orang lain dalam bekerja dan melayani Tuhan agar hubungan dan kerjasama yang terjalin bertambah baik dan berkenan kepada-Nya.

 

Sikap membuka hati untuk menjalin hubungan dan kerjasama dimulai dari diri sendiri maka orang lain akan termotivasi menyediakan hati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«