suplemenGKI.com

Roma 9:6-18

INJIL DAN KEDAULATAN ALLAH

PENGANTAR
Tidak semua pemberitaan Injil berujung pada kesuksesan. Sebagian orang yang mendengarkan Injil menolak untuk percaya kepada Kristus. Jika hal itu terjadi, apakah itu berarti bahwa Firman Tuhan telah gagal? Tidak. Sebaliknya, penolakan seperti itu adalah bukti bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang diberikan menurut kedaulatan-Nya. Dalam perikop bacaan kita hari ini, Paulus menjelaskan hal tersebut dengan memberikan contoh-contoh yang menunjukkan bahwa di dalam kedaulatan-Nya, Allah menganugerahkan kasih-Nya kepada mereka yang dikehendaki-Nya.

PEMAHAMAN

  • Ayat 6-9.      Seperti kita tahu, Abraham memiliki dua anak lak-laki, Ismael dan Ishak. Namun hanya keturunan Ishak yang disebut sebagai keturunan Abraham. Mengapa demikian?
  • Ayat 10-16.     Mengapa Tuhan “mengasihi” Yakub dan “membenci” Esau (ay. 13)?
  • Ayat 17-18. Siapakah Firaun? Bagaimana Tuhan memakai dia? Mengapa Tuhan memakai dia?

Paulus memberikan tiga contoh dari Perjanjian Lama tentang kedaulatan Allah yang berlaku dalam kehidupan manusia (Ishak dan Ismael, 9: 7b-9; Yakub dan Esau, ay 10-13; dan Firaun, ay 14-18). Dalam contoh yang pertama Tuhan menggunakan kedaulatan-Nya ketika memilih siapakah di antara keturunan Abraham yang akan mengambil bagian dalam perjanjian keselamatan (ay. 8, “anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar,” band. Kej. 21:12). Pemilihan atas Ishak (ay. 7), bukan Ismael, adalah wujud kedaulatan Allah. Kepada Abraham, Allah menyatakan kedaulatan-Nya, dan berjanji akan mewujudkannya (ay. 9).

Contoh kedua diambil dari generasi kedua nenek moyang orang Yahudi, anak-anak Ishak dan Ribka. Di sini kedaulatan Tuhan diperlihatkan lebih jelas karena ini melibatkan pilihan Tuhan atas dua orang saudara kembar, Esau dan Yakub. Pilihan Tuhan ini telah dinyatakan sebelum si kembar lahir. Ini menunjukkan bahwa pilihan kedaulatan Allah tidak ditentukan oleh sikap dan tindakan mereka.  “Kasih” Tuhan bagi Yakub dan “kebencian” Tuhan terhadap Esau, bukanlah bentuk ketidakadilan Tuhan, melainkan wujud kedaulatan-Nya. (Catatan: pengertian “kebencian” di sini tidak mutlak, melainkan sebagai pembanding dari “kasih” Tuhan terhadap Yakub (bad. Mat 6:24; Luk 14:26; Yoh 12:25). Kedaulatan Allah tidak dapat ditentukan oleh kehendak dan usaha manusia.

Dalam contoh ketiga, Rasul Paulus memberikan bukti yang lebih ekstrim, yaitu ketika Firaun, raja Mesir yang jahat, diberi-Nya kesempatan untuk tetap hidup agar dapat menyatakan kuasa-Nya dan memasyhurkan nama-Nya (ay. 17, lihat juga Kel. 9:16). Kita tentu ingat bahwa Tuhan juga telah mengeraskan hati Firaun (Kel. 7: 13-14, 22; 8:15, 19, 32; 9: 7, 34-35). Dengan contoh ini, Paulus menegaskan kedaulatan Tuhan: “Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” (ay. 18).

REFLEKSI
Dengan memahami kedaulatan Allah, khususnya dalam karya keselamatan-Nya, maka kita tidak akan sombong jika pemberitaan Injil yang kita lakukan berhasil, dan tidak akan putus asa bila kita ditolak.

TEKADKU
Tuhan, tolonglah aku agar tetap setia memberitakan Injil.

TINDAKANKU
Hari ini aku akan berdoa bagi orang-orang yang telah Tuhan pakai untuk memperkenalkan Injil Yesus Kristus kepadaku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«