suplemenGKI.com

RAJA YANG MENGEMBALAKAN

Matius 25:31-46

 

Pengantar
                Berbicara mengenai raja, kita pasti akan tertarik melihat kejayaannya, kerajaannya, kekuasaannya, kebesarannya, kekayaannya bahkan kemuliaannya. Biasanya raja akan dikenal bahkan menjadi terkenal kala ia melakukan hal-hal yang spektakuler, misalnya berapa banyak musuh yang telah dikalahkannya, seberapa luas kekuasaannya, seberapa besar bangunan kerajaannya, seberapa besar pasukan perangnya dll. Namun hari ini kita akan membicarakan seorang raja yang peduli dengan rakyatnya bahkan memperhatikan penderitaan rakyatnya. 

Pemahaman
Ayat 31-32           :  Apa yang akan terjadi waktu Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya?
Ayat 33                 :  Apa yang akan dilakukan oleh Raja itu?
Ayat 34-36           :  Apa yang dikatakan Raja itu kepada orang-orang di sebelah kanan-Nya?
Ayat  37-40          :  Apa yang” domba-domba” katakan kepada Rajanya? Dan apa reaksi Rajanya?
Ayat 41-43           :  Apa yang dikatakan Raja itu kepada orang-orang yang disebelah kiri-Nya?
Ayat 44                 :  Apa jawaban dari orang-orang yang disebelah kiri-Nya? Dan apa reaksi Rajanya?

                Yesus Kristus dalam Injil Matius disapa dengan sebutan Anak Manusia itu adalah Raja yang datang dalam kemuliaan-Nya. Raja itu memberikan penghakiman dengan ukuran yang tak terduga. Bagi Raja tersebut orang-orang yang dipilih dalam kerajaan-Nya adalah orang-orang yang tidak individualistis (ay 35-36). Acuan yang di pakai Raja itu bukanlah apa yang seseorang dapatkan sebagai prestasi kehidupannya, melainkan apa yang dapat ia berikan dari dirinya, bukan mendapatkan tapi memberikan, bukan memiliki namun mengasihi. Orang-orang pilihan Raja adalah orang-orang yang mau berbagi kehidupan dengan sesamanya.

Dalam ayat 35-36, 42-43, ada kata-kata “Aku” yang dipersonalisasikan dengan”saudara-Ku yang paling hina” yang dapat juga diartikan sebagai “yang paling kecil” atau “yang paling akhir” Artinya bahwa ”Aku” adalah mereka yang terlupakan. Mereka yang tidak diingat karena status diri yang rendah baik secara sosial atau ekonomi. Sang Raja menempatkan diri-Nya sebagai yang terkecil, terlupakan atau bahkan tersingkir. Sang Raja itu berempati untuk menegakkan keadilan. Sang Raja mengajak banyak umat untuk saling peduli satu dengan yang lain, untuk saling memperhatikan mereka yang terpinggirkan atau terlupakan oleh orang lain. Manusia yang saling mempedulikan akan membuat “si aku” yang adalah mereka yang terkecil, mendapatkan suka cita.

Dalam bagian ini Raja menjadi sangat marah kepada mereka yang hanya hidup untuk “egonya” sehingga tidak pernah dapat mempedulikan orang-orang yang “ terkecil” atau “terpinggirkan”

Hal ini mengingatkan kita untuk menanti kedatangan Raja yang mengembalakan umat-Nya dan mengundang manusia untuk terus hidup dalam kehendak Tuhan.

Refleksi
Renungkanlah: Seberapa besar kepedulian anda terhadap mereka yang “terkecil” atau “terpinggirkan”? 

Tekadku
Ya, Tuhan seringkali kami hanya memperhatikan diri sendiri, kami hidup di dalam keegoisan, ampunilah kami ya Tuhan dan perbaharuilah hidup kami? 

Tindakanku
Hari ini saya akan memperhatikan di sekitar lingkungan saya orang-orang yang “terkecil” atau yang “terpinggirkan”.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«