suplemenGKI.com

Membangun Kedamaian, Membangun Keharmonisan

Roma 15:4-13

 

Pengantar

Saya kira kita semua setuju kalau kehidupan yang penuh kedamaian akan membuat kita hidup dalam keharmonisan. Tapi untuk membangun kehidupan yang damai bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi kalau kita hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. Hal inilah yang akan menjadi bahan perenungan kita hari ini.

 

Pemahaman

Ay. 4-13    : Bagaimanakah nasehat Rasul Paulus agar kita dapat membangun kedamaian sehingga hidup dalam keharmonisan?

Rasul Paulus mengawali nasihatnya dengan memberikan alasan mengapa ia mengutip apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Dalam ayatnya yang keempat, Rasul Paulus menegaskan bahwa apa yang tertulis di dalam Alkitab bukanlah kisah sejarah semata, melainkan lebih dalam dari itu, ada pernyataan-pernyataan sifat dan sikap Allah yang berlaku baik dulu maupun sekarang dan sampai selamanya. Setelah meletakkan dasar Alkitabiahnya, Rasul Paulus baru membicarakan tentang beberapa hal, termasuk kerukunan di dalam ayat kelima.

Kata kerukunan di ayat 5 mengandung pengertian sehati sejiwa dan mempunyai tujuan yang sama, serta menjaga kesatuan dalam hubungan antar anggota jemaat. Jadi bukan sekadar masalah kita duduk bersama belaka, tetapi ada kesehatian di dalamnya. Bahkan lebih lanjut Paulus mengingatakan agardengan satu hati dan satu suara Jemaat Tuhan memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Secara hurufiah, arti kata Yunani yang diterjemahkan dengan “satu suara” di sini adalah “satu mulut”. Ini memberikan suatu gambaran yang menarik. Jemaat Tuhan diminta untuk belajar memiliki satu mulut. Pengertiannya bukan sekadar mereka menyuarakan segala sesuatunya melalui satu pintu semacam juru bicara, melainkan mulut mereka tidak diarahkan kepada sesama jemaat. Dengan demikian tidak ada Jemaat yang saling mengejek, menghina, atau menghakimi.

Lebih lanjut, di dalam ayat berikutnya Rasul Paulus mengajak Umat untuk saling menerima satu sama lain (ay. 7). Nasihat ini sepertinya merupakan pengulangan dari nasihat yang dilontarkan Paulus dalam pasal 14:1, tapi sebenarnya obyek nasihat ini berbeda. Kalau di pasal 14 nasihat untuk menerima satu sama lain itu mengacu pada anggota yang “lemah imannya”, kita harus membuka diri untuk menerima mereka yang kita anggap imannya masih lemah. Sedangkan di sini kedua golongan diajak saling menerima. Dasar pemikiran teologisnya adalah: Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

Refleksi

Adalah hal yang sia-sia apabila kita memohonkan kerukunan kepada Allah, tetapi kita menggunakan mulut kita untuk saling melukai satu sama lain.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk belajar mengarahkan mulut saya bukan untuk mempermalukan sesama, tetapi untuk saling mendukung di dalam Tuhan. Amin.

Tindakan

Saya akan belajar memberikan kata-kata dukungan kepada para pelayan Tuhan dalam minggu ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«