suplemenGKI.com

Jumat, 19 April 2013

18/04/2013

Yohanes 10:31-42

Pintu Menuju Kehidupan

Pengantar
Di dalam Injil Yohanes, dicatat sebanyak 7 (tujuh) pernyataan Tuhan Yesus yang memakai format “Aku adalah…”. Pernyataan “Aku adalah pintu” pada bacaan kita hari ini (Yoh. 10:9), ada pernyataan yang ketiga dengan urutan: [1] Aku adalah “roti hidup” (Yoh 6:35); [2] Aku adalah “terang dunia” (Yoh 8:12); [3] Aku adalah “pintu” (Yoh 10:9); [4] Aku adalah “gembala baik” (Yoh 10:11,14); [5] Aku adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh 11:25); [6] Aku adalah “jalan, kebenaran, hidup” (Yoh 14:6); [7] Aku adalah dan “pokok anggur yang benar” (Yoh 15:1,5). Kini, mari kita renungkan pernyataan Tuhan Yesus ini, “Akulah pintu”. 

Pemahaman
- Apakah yang pertama kali muncul dalam benak Saudara ketika mendengar kata “pintu”?

- Mengapa Kristus menyebut diri-NYA pintu? Apakah artinya itu? Apa pula artinya bagi kehidupan kita sekarang ini?

“Akulah pintu”. Konteks pernyataan Tuhan Yesus ini adalah kehidupan penggembalaan domba. Pada waktu seorang gembala membawa kawanan dombanya ke padang, maka sang gembala membuat kandang untuk melindungi kawanan dombanya. Biasanya kandang tersebut terbuat dari batu dan/atau kayu dengan hanya satu pintu. Apabila malam telah tiba dan semua domba sudah masuk kandang, maka sang gembla akan terus berjaga pada pintu itu. Kalaupun ia bergiliran tidur dengan rekan sesama gembala, ia akan tidur di pintu tersebut sambil menjaga agar tidak ada domba yang keluar maupun binatang buas atau pencuri yang masuk.

Berkaitan dengan pintu ini, dalam ayatnya yang kesembilan Kristus juga menyatakan 2 (dua) hal, yaitu: pertama, domba yang dibawanya masuk ke dalam kandang akan selamat. Di dalam kandang itu kawanan domba akan aman dan nyaman, bukan karena bangunan kandangnya yang memang pasti dibuat sekokoh mungkin, akan tetapi karena penjagaan sang gembala tersebut. Pembangunan kandang itu sendiri merupakan bagian dari penjagaan sang gembala, bukan? Pemazmur menegaskan bahwa setiap saat Tuhan menjaga umat-NYA dengan setia dari segala macam mara bahaya karena IA tidak pernah tertidur pun terlelap (Maz. 121).

Kedua, domba yang dibawanya ke luar kandang akan menemukan padang rumput. Hal ini juga menggambarkan pemeliharaan Tuhan, sebagaimana dikatakan oleh raja Daud, “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang” (Maz. 23:2; bnd. 4b hari Selasa, 16 April 2013). Hal ini menegaskan bahwa pemeliharaan Tuhan bukan hanya tatkala para domba berada di dalam kandang, di ruang yang sempit dan tertutup serta pada malam hari, melainkan juga di luar kandang, di ruang yang luas dan terbuka serta pada pagi atau siang hari. Pemeliharaan Tuhan di mana saja dan kapan saja ini tidaklah mengherankan karena Kristus memang datang supaya para domba mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (ay. 10).

Refleksi
Betapa beruntungnya kita sebagai kawanan domba Allah, yang senantiasa dipelihara di mana saja dan kapan saja.

Tekad
Doa: Tuhan, ajarlah aku untuk menaikkan syukur atas pemeliharaan-MU, bukan hanya di dalam kandang, tapi juga di luar kandang. Bukan hanya di kala suka, tetapi juga di kala duka.

Tindakan
Rasa syukur tersebut dapat kita wujudkan dengan menyanyikan NKB 197 pada pagi hari dan malam hari 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«