suplemenGKI.com

Memperkokoh Diri Memperkokoh Komunitas

Ibrani 12:12-17

Pengantar

Struktur surat Ibrani sebenarnya dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yakni pasal satu sampai dengan pasal 10, yang berbicara tentang superioritas Kristus. Sedangkan bagian kedua terdiri dari pasal 11 sampai dengan pasal 13, yang berisi tentang nasihat-nasihat agar kita tetap semakin teguh beriman kepada Allah. Dengan pembagian seperti ini, maka perikop yang menjadi dasar perenungan kita berada di kelompok kedua.

Pemahaman

Ayat 12 – 15        : Untuk kepentingan siapakah sesungguhnya nasihat yang diberikan di sini?

Ayat 16 – 17        : Kesalahan apakah yang telah diperbuat Esau? Hal apa pula yang patut kita teladani dari kehidupan Esau?

Kalau kita membaca ayat 12 – 15 dengan tanpa mencerna, kita akan menangkap ayat-ayat ini ditujukan kepada masing-masing orang Kristen yang berada dalam lingkup edaran surat tersebut. Akan tetapi, kalau kita memperhatikan dengan seksama, apalagi mencoba untuk menggali bagian ini, maka kita akan menyadari bahwa sesungguhnya sekalipun nasihat-nasihat ini ditujukan kepada individu per individu, namun sebenarnya asas manfaat dari semua nasihat di sini adalah demi kepentingan komunitas. Misalnya saja ayat 13, “dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (TB).  Dalam Alkitab versi Firman Allah Yang Hidup (FAYH) kalimat tersebut berbunyi, “Buatlah jalan yang lurus dan datar bagi kaki Saudara, sehingga orang-orang yang mengikuti Saudara, walaupun mereka lemah dan pincang, tidak akan jatuh dan terluka, melainkan menjadi kuat.” Mengapa mereka yang percaya kepada Kristus harus membuat jalan yang lurus agar mereka yang pincang tidak jatuh dan terluka? Jawabnya adalah demi kepentingan orang lain, bukan sekadar demi kepentingan diri sendiri. Pesan ini juga diperkuat dalam ayat berikutnya, di mana dinasihatkan agar hidup rukun dengan sesama, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang …“ (ay. 14) serta saling menjaga “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah…” (ay. 15)

Kasih karunia yang disebut dalam ayat 15 itu kemudian menjadi perhatian di ayat 16-17, di mana Esau dihadirkan sebagai figur yang memandang remeh hak kesulungan. Sebagaimana dijelaskan di ayat 15, tatkala seseorang menjauhkan diri dari kasih karunia, maka ia akan rawan memiliki akar pahit. Setelah peristiwa kacang merah itu – kemudian tergenapi dengan diberkatinya Yakub oleh Ishak – ada akar yang pahit dalam kehidupan Esau.

Refleksi

Menyadari kasih karunia Allah yang dilimpahkan atas diri kita sesungguhnya akan membuat kita hidup dalam ucapan syukur serta menjadi berkat bagi orang lain.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk terus menyadari kasih karuniaMu dalam hidup saya. Amin.

Tindakan

Saya mau memperkokoh diri agar semakin menghayati kasih karunia Allah dalam hidup saya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«