suplemenGKI.com

SPORTIF DAN KREATIF

Yunus 3 : 10 – 4 : 11 

Pengantar
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul untuk bagian Yunus pasal 4: 1- 10 dengan kalimat: “Yunus belajar menginsyafi, bahwa ALLAH mengasihi bangsa-bangsa lain”, sehingga kita diajak untuk memiliki sikap yang sama, yaitu tidak bersikap eksklusif (mengistimewakan diri atau kelompok sendiri). Hal ini sudah pernah kita ketahui. Namun pada kesempatan hari ini, kita diajak untuk melihat hal lain yang juga penting untuk diperhatikan dan diwujudkan. Maka marilah kita membaca Yunus 3:10 – 4:11, dan menemukan pesan TUHAN bagi kita di hari ini.

Pemahaman
Pasal 3 : 10 – Pasal  4 : 4 :  Mengapa Yunus kesal dan marah?
Pasal 4 : 5 – 11                    :   Bagaimana cara (kreasi) TUHAN menyadarkan Yunus?

Yunus kesal dan marah karena TUHAN menyesal dan membatalkan penghukuman kepada orang-orang di kota Niniwe, sebagaimana yang sudah Yunus perkirakan. Dan kita semua tahu bahwa pembatalan hukuman itu terjadi ketika ALLAH melihat perbuatan orang-orang di kota Niniwe, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Di sini terlihat bahwa TUHAN juga bersikap sportif, karena ketika manusia diperingatkan dan mau bertobat (siapapun juga) maka akan ada anugerah kasih pengampunan. Dan bukankah ini juga sejalan dengan pengenalan Yunus tentang TUHAN sebagai Pribadi yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Jadi mengapa Yunus harus kesal karena TUHAN menyesal?

TUHAN juga sangat kreatif dalam memberi pengertian dan penyadaran kepada Yunus. TUHAN menumbuhkan sebatang pohon jarak untuk menaungi dan menghibur Yunus dari kekesalan hatinya, dan keesokan harinya (ketika fajar menyingsing) melayukan pohon jarak tersebut dan meniupkan angin timur yang panas terik hingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus. Maka Yunus kembali marah (kesal hati) karena keberadaan pohon jarak yang tidak dapat menaunginya lagi.

Sesungguhnya bukan semata kehadiran pohon jarak yang diketahui sebagai sebuah kreativitas, tapi proses (peristiwa) yang menimbulkan pengulangan rasa kesal hati dan marah Yunus terhadap sesuatu yang tidak sepantasnya, dapat menyadarkan Yunus tentang dirinya yang tidak bersikap sportif dalam melihat pribadi TUHAN yang sportif. Bukankah pengakuannya bahwa TUHAN adalah Pribadi yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia seharusnya dapat Yunus sadari dengan adanya kreasi pembuktian kasih dan sayang yang TUHAN wujudkan kepada orang-orang di kota Niniwe.

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

 

  • Apakah kita selama ini sudah sportif dalam mengasihi orang lain yang berbeda dengan kita? Atau tetap ada jarak di antara kita dengan mereka karena perbedaan yang ada?
  • Apakah kita telah sungguh-sungguh menyadari betapa sayang dan kasihnya TUHAN kepada semua ciptaan-NYA (baca: kreasi-NYA)?
  • Apakah kita bersedia berkreasi seperti TUHAN untuk memulihkan kehidupan?

Tekad
TUHAN, jadikan aku sebagai umat-MU yang dapat mengasihi orang lain yang berbeda dalam kehidupan bersama. 

Tindakanku
Dalam situasi pandemi covid 19 ini, saya akan semakin berupaya untuk berbuat hal yang baik secara sportif dan kreatif, dengan tidak diwarnai oleh sikap pementingan diri sendiri.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*