suplemenGKI.com

Yakobus 3:13-18.

 

Hikmat Yang Dari Atas.

Pengantar:
Ada seorang ibu dijuluki sebagai “Nyonya gerutu” oleh teman-temannya, karena ibu tersebut sangat suka menggerutu. Setiap kali ia berjumpa dengan orang, ia akan berkeluh kesah dan menggerutu. Ada saja yang dikeluhkan dan digerutunya. Ia selalu berbicara tentang kelemahan-kelemahan pribadinya, keluarganya, gerejanya, pekerjaannya dan apa saja yang ada di pikirannya. Hal itu membuatnya tidak disukai oleh keluarganya, teman-temannya orang-orang segerejanya dan di kantornya. Sesungguhnya ibu ini orang yang terpelajar, cukup diberkati Tuhan. Tetapi sayang ia orang yang selalu tidak puas, iri hati dan suka menuntut, bahkan selalu merasa dirinya yang paling benar.

Pemahaman:

  1. Apakah yang diharapkan, jika kita memperhatikan pernyataan penulis di ay. 13?
  2. Apakah yang menjadi ciri-ciri orang yang tidak memiliki hikmat dari atas? (v.14-16)
  3. Bagaimanakah ciri-ciri dari orang yang memiliki hikmat dari atas! (v. 17)
  4. Peran apa yang paling menonjol dari orang yang memiliki hikmat dari atas (v. 18)

Pertanyaan penulis surat Yakobus di ayat 13, sebenarnya mengundang pembaca agar memiliki hikmat yang dari atas atau hikmat Tuhan. Hikmat yang dari atas itu berwujud bijaksana dan berakal budi. Bijaksana itu berbicara tentang bagaimana seseorang melakukan perannya sebagai orang yang beriman dan percaya kepada Tuhan Sang sumber hikmat (Yak 1:5-6) Jika seseorang memiliki hikmat dan akal budi dari atas maka ia tahu tentang yang baik dan tidak baik, tahu kapan ia berkeluh kesah atau tahu apa yang perlu dibicarakan atau tidak.

Ciri-ciri lain orang yang tidak memiliki hikmat dan akal budi adalah: iri hati, mementingkan diri sendiri, suka memegahkan diri (sombong) suka berdusta, suka membuat kacau dan segala macam perbuatan jahat. Berbeda dengan orang yang memiliki hikmat dari atas: Ia memiliki ketulusan hati, pendamai, penurut akan firman Tuhan, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik lainnya serta tidak munafik apalagi memihak.

Seseorang yang memiliki hikmat dari atas, di manapun dia berada, berkarya selalu membawa kedamaian, kesejukan dan kenyamanan. Ia tidak suka menonjolkan diri, tidak memegahkan diri apalagi mencari sensasi demi popularitasnya. Baiklah kita meminta agar Tuhan mengaruniakan hikmat kepada kita agar bisa membawa damai di manapun kita berada.

Refleksi:
Renungkan sejenak, apakah kita sudah memiliki hikmat yang dari atas? Cara mengukurnya adalah bila kita tahu membedakan yang baik dan tidak baik, disukai oleh komunitas dan  bisa membawa damai.

Tekad:
Tuhan, saya menyadari bahwa saya belum bisa menghadirkan damai, kenyamanan dan ketenangan di dalam keluarga, komunitas dan pelayanan saya, saya mohon karuniakan hikmat-Mu kepada saya ya Tuhan, agar dapat membawa damai di manapun saya berada.

Tindakan:
Hanya ada satu sumber hikmat yang dari atas yaitu firman Tuhan. Saya akan setia membaca firman Tuhan agar saya memiliki hikmat yang dari atas.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*