suplemenGKI.com

Jumat, 18 Maret 2016

17/03/2016

KASIH & KETAATAN

Yesaya 50:4-9

 

PENGANTAR
Takut dan merasa tidak enak dengan orang lain bisa menjadi dasar bagi ‘ketaatan’ seseorang.  Tetapi apakah hal itu ketaatan yang sesungguhnya?  Ada pula sikap ‘taat’ yang dilakukan karena ingin dipuji dan diakui atasan.  Orang bilang, cari muka.  Sebaliknya ada pula ketaatan yang dilakukan sebagai konsekuensi kebenaran yang dipegang.  Bagaimana dengan ketaatan hamba yang digambarkan dalam bacaan hari ini, apa motif yang mendorongnya?

PEMAHAMAN

Ayat 4-5 : Apa yang diterima hamba Tuhan di bagian ini dan apa tujuannya?

Ayat 7 : Pertolongan apa yang diterima hamba Tuhan di bagian ini?

Apakah kasih dan ketaatan berhubungan atau tidak?

Apakah kasih dan ketaatan adalah dua hal yang bisa dipisahkan atau tidak?

Bacaan kali ini mengungkapkan bagaimana ketaatan hamba Tuhan di tengah-tengah penderitaan.  “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid” (ayat 4).  Kata Ibrani, “murid” berasal dari kata kerja lamad yang berarti mengajar, membiasakan.  Tekanannya bukan pada pengajaran intelektual seperti di sekolah, tetapi latihan dalam hal sikap terutama melawan terhadap kejahatan.  Meskipun orangtua dan bijaksana mempunyai tugas mengajar, kata ini lebih sering digunakan dalam hubungan dengan Tuhan, yang mencakup hidup orang percaya.  Pertanyaannya, apa motif dibalik ketaatan yang penuh resiko seperti ini?  Bukankah lebih mudah ikut arus daripada melawan arus dengan konsekuensi menderita?!  Mungkinkah ada motif personal, misalnya mencari ketenaran atau justru sengaja menyenangi penderitaan?

Melihat konteks secara keseluruhan, tidak ada indikasi yang mengarah pada keinginan menjadi tenar atau sengaja menyiksa diri melalui penderitaan.  Perikop ini menggambarkan sikap Kristus yang rela menderita bagi manusia.  Kerelaan  Kristus didorong oleh kasih dan ketaatan kepada rencana Bapa.  Yesus digambarkan sebagai hamba Tuhan atau murid yang sedang menderita.  Ketaatan total seorang murid sekaligus hamba Tuhan ditunjukkan di sini, “aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku” (ayat 6).  Janggut adalah tanda kepriaan seorang laki-laki di Timur Tengah.  Sepertihalnya meludahi muka, mencabut janggut berarti menghukum, menghinakan, atau mempermalukan. Orang yang diperlakukan demikian, dengan sengaja sedang dipermalukan dan direndahkan.  Orang menganggap bahwa Allah telah meninggalkannya.  Bahkan dirinya sendiripun meyakini hal ini.  Perikop ini mengajarkan kepada kita untuk bersikap sebagai seorang hamba yang karena kasih Allah, kita mau hidup di dalam ketaatan, sama seperti Kristus taat kepada Bapa.

REFLEKSI                                                                          
Kasih Allah yang kita alami hendaknya menjadi motif ketaatan hidup kepada Allah.

TEKADKU
Aku mau hidup dalam kasih dan ketaatan kepada Allah yang sudah lebih dulu mengasihi.

TINDAKANKU
Aku mau menyatakan kasih di dalam ketaatanku kepada Bapa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«