suplemenGKI.com

Jumat, 17 Mei 2013.

16/05/2013

Bacaan : Roma 8 : 14-17.

Hidup sebagai anak-anak Allah.

Pengantar.
Tetangga kami, sebut saja namanya pak Moyo. Ia sudah tujuh belas tahun menikah namun belum dikaruniai momongan [anak], padahal mereka sangat mendambakan seorang anak. Untuk itulah mereka berunding untuk mengadopsi anak dari sebuah panti asuhan. Dan akhirnya mereka sepakat mengambil anak angkat dengan mengadopsi anak panti asuhan. Dalam proses adopsi banyak syarat-syarat dari panti asuhan yang harus mereka penuhi, bahkan ia harus ke notaris untuk mendapatkan pengesahan anak tersebut secara hukum. Akhirnya anak angkat tersebut telah menjadi anaknya secara hukum. Kini keluarga ini hidup dengan bahagia.

Pemahaman.

  1. Siapa yang disebut sebagai anak-anak Allah ? [ ayat 14-16]
  2. Apa yang menjadi hak kita sebagai anak-anak Allah ? [ ayat 17]
  3. Apa tanggung jawab kita sebagai anak-anak Allah ? [ayat 14-15,17}

William Barcclay memberikan penjelasan yang baik tentang pengadopsian anak. Pemerintah Romawi membuat peraturan yang serius dan sulit dalam hal pengangkatan anak [adopsi]. Sistem yang dipakai adalah konsep Patria potetas yaitu kekuasaan absolut/mutlak seorang ayah atas anaknya, sang ayah berkuasa untuk membuang dan menguasai artinya berkuasa atas hidup-mati anaknya. Dengan demikian proses adopsi akan menjadi sangat sulit dilakukan. Ada beberapa konsekwensi daro pengangkatan anak. 1. Orang yang diangkat anak, akan kehilangan seluruh haknya dalam keluarganya yang lama dan mendapat hak sebagai anak dalam keluarga yang baru. 2. Ia menjadi ahli waris atas harta ayah barunya. 3. Secara hukum, kehidupan yang lama dari orang yang diadopsi dihapuskan, termasuk kesalahan-kesalahan. 4. Secara hukum, ia adalah mutlak anak dari ayah barunya.

Menurut pandangan rasul Paulus, setiap orang percaya [ Kristen ] telah masuk ke dalam keluarga Allah. Ia tidak berbuat sesuatu yang baik supaya layak menerima status tersebut. Allah Bapa yang Maha besar, didalam kasih setiaNya yang menakjubkan telah mengambil yang hilang, tersesat, yang tak berdaya, papa, berdosa dan mengangkatnya menjadi anakNya.

Kita seharusnya selalu mengucap syukur kepada Tuhan Yesus, karena Dialah kita diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena kita adalah anak-anak Allah maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya adalah orang-orang yang akan menerima janji-janji Allah termasuk hidup yang kekal. Bukankah itu adalah hal yang sagat luar biasa ? namun harus diingat ! sebagai anak-anak Allah kita harus hidup dipimpin oleh Roh Kudus, yaitu suatu kehidupan yang dilandasi dengan kepatuhan penuh untuk hormat dan kemuliaan Allah, baik melalui perbuatan, tutur kata maupun hati, semua harus mengarah kepada kehendak Tuhan. Bagaimana dengan anda ? bisakah kita menjalaninya ? amin.

Refleksi.
Ambillah saat hening, bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya adalah anak-anak Allah ? apakah dasarnya sehingga saya diangkat menjadi anak-anak Allah ? bagaimana saya seharusnya menjalani kehidupan sebagai anak-anak Allah, baik dalam perbuatan, tutur kata maupun hati ? apakah semuanya itu sudah memuliakan Allah yang sudah mengangkat saya menjadi anak-anaknya ?

Tekadku.
Ya Tuhan, mampukanlah saya menjadi anak-anak Allah yang berperilaku sesuai dengan kehendakMu.

Tindakanku.
Hari ini saya akan berjuang menjadi anak-anak Allah yang sesuai dengan kehendak Allah dalam perbuatan dan tutur kata.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«