suplemenGKI.com

Jumat, 17 Juli 2020

16/07/2020

Roma 8:18-25

PENDERITAAN SEBELUM KEMULIAAN

PENGANTAR
Sebagian besar dari kita cenderung bersikap “mau enaknya saja.” Sikap ini berlaku di berbagai bidang dalam kehidupan kita sehari-hari: di rumah, di sekolah atau kantor, dan juga di gereja. Sikap ini juga sering muncul ketika kita berelasi dengan Allah.

Di ay. 17 Paulus menyebutkan bahwa anak-anak Allah akan mewarisi baik penderitaan maupun kemuliaan bersama-sama dengan Kristus.  Dalam bacaan kita hari ini (8:18-25) Paulus memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kemuliaan yang akan dinyatakan bagi anak-anak Allah.

PEMAHAMAN

  • Ayat 18-21.   Mengapa kita perlu melihat kemuliaan yang akan dinyatakan di masa depan? (ay. 18-19) Mengapa seluruh ciptaan juga menantikan saat itu? (ay. 20-21)
  • Ayat 22-25.   Mengapa penderitaan seluruh makhluk digambarkan sebagai sakit bersalin? (ay. 22). Apa yang sedang kita harapkan/ nantikan dan bagaimana kita menantikannya?

Pertama-tama, Paulus menegaskan penderitaan orang-orang percaya karena kejahatan yang merajalela pada masa kini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan menjadi milik mereka pada masa yang akan datang (band. 2 Kor. 4:17). Kehidupan di bumi hanyalah sesaat dibandingkan dengan kekekalan. Kita tidak boleh membiarkan kesulitan hidup menyerap perhatian kita dan membuat kita melupakan kemuliaan yang menanti kita. Kemuliaan itu digambarkan dengan indah di ayat 19: kemuliaan itu dinantikan oleh seluruh ciptaan. Seorang penafsir menterjemahkan ayat ini dengan indah, “Seluruh ciptaan berjinjit untuk melihat pemandangan indah ketika kemuliaan anak-anak dinyatakan.” Mengapa demikian? Kita tahu bahwa dosa yang dilakukan manusia (Adam) telah membuat bumi (tanah) ikut terkena “kutuk”, dan dengan demikian berdampak pada seluruh makhluk. Karena itulah berharap bahwa pemulihan kemuliaan anak-anak Allah juga akan memerdekakan mereka dari kutuk tersebut (ay. 21).

Ketika masih ada di dalam dunia, seluruh alam semesta merasakan “sakit bersalin” (ay. 22). Meskipun rasa sakitnya luar biasa, namun ibu yang akan melahirkan itu rela menghadapinya karena ada pengharapan akan lahirnya sebuah kehidupan yang baru. Demikian juga, kita sendiri mengeluh dalam hati ketika kita menunggu fase akhir dari adopsi kita, yaitu pembebasan tubuh kita dari dosa (ay. 23b). Orang-orang percaya memiliki “buah sulung Roh,” yaitu Roh Kudus yang merupakan jaminan atas semua yang akan kita terima di masa depan. Jadi, kita bisa menantikan semua janji di masa depan itu tanpa ragu-ragu. Di dalam keselamatan yang kita terima, terkandung harapan bahwa tubuh fana kita suatu hari nanti akan dibebaskan dari kebinasaan (ayat 24). Namun, pengharapan itu masih belum terlihat, dan kita harus menantikannya dengan “tekun” (ay. 25). Istilah “tekun” di ayat itu berarti bersabar dalam menghadapi tekanan atau penderitaan.

REFLEKSI
Sama seperti semua orang di dunia, orang-orang percaya juga harus menghadapi penderitaan. Namun, orang-orang percaya menghadapi penderitaan dengan pengharapan dan kesabaran.

TEKADKU
Tuhan, terima kasih telah menolong aku menghadapi penderitaan. Aku juga akan menolong orang-orang di sekitarku agar mereka menghadapi penderitaan dengan pengharapan dan kesabaran.

TINDAKANKU
Aku akan menelpon minimal dua orang yang sedang menderita/menghadapi kesulitan mereka dan mendoakan mereka.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«