suplemenGKI.com

Jumat, 17 Juli 2015

16/07/2015

Efesus 2:15-22

KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH

 

PENGANTAR
Salah satu alasan yang pernah saya dengar mengapa seseorang pindah tempat pelayanan adalah karena persoalan etnis.  Artinya, yang bersangkutan tidak bisa sepenuhnya diterima karena etnisnya berbeda dari mayoritas jemaat yang dilayani.  Mungkin terdengar aneh, tapi itulah kenyataan yang terjadi.  Perbedaan etnis bagi sementara orang masih begitu penting untuk kemudian memilah dan memilih siapa yang jadi sesamanya.  Bagaimana Paulus menanggapi hal ini?  Mari kita baca dan pelajari.

PEMAHAMAN

Ayat 15-16      :  Apa hubungan Kristus dan hukum Taurat dalam konteks ayat ini

Ayat 17-18      :  Apa makna pengorbanan Kristus dalam konteks perbedaan?

Ayat 19-20      :  Apa pandangan Paulus terhadap perbedaan di antara jemaat?

Ayat 21-22      : Apa pemahaman Paulus tentang bait Allah dalam hubungannya dengan jemaat?Apa yang anda pahami tentang perbedaan di dalam Kristus?

Adakah tembok pemisah yang anda masih rasakan dalam membangun relasi?

Kecenderungan hidup dalam tembok sebenarnya menyatakan bahwa orang sedang tidak aman, merasa terancam, dan takut menghadapi sesuatu di luar dirinya.  Orang-orang yang sengaja membatasi lingkup hidup mereka di dalam suatu tembok adalah mereka yang tidak mampu melihat realita hidup secara utuh, tidak mampu menghadapi perbedaan dan mengingkari kehidupan bersama dengan sesama yang berbeda.  Apa yang diyakini berangkat dari sudut pandang yang sempit, lalu dimutlakkan seolah keadaan yang terjadi demikian adanya.   Sebaliknya, iman adalah kemampuan menjangkau dan memaknai realitas secara utuh, sehingga sikap iman akan menghasilkan perjumpaan dengan sesama, yaitu perjumpaan yang bermakna.

Melalui kematian Kristus, Allah meruntuhkan tembok pemisah, “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk. .  . . memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh” (ay. 15, 16),  sehingga kita dimampukan untuk berinteraksi dalam realitas perdamaian dengan Allah, sesama, dan diri sendiri, seperti yang Paulus tegaskan bahwa, “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat” (ay.16).  Bahkan perjumpaan di dalam salib Kristus membawa perubahan dan pembaruan hidup.  Perjumpaan tersebut bukan untuk mengkristalisasikan konflik dan permusuhan.  Sebaliknya, menjembatani dan membarui setiap orang untuk diubah oleh Roh Kudus.

Kebenaran ini menegaskan kepada setiap orang percaya bahwa perbedaan hanyalah sebatas sejarah kelahiran yang dari awal berbeda.  Tetapi tidak cukup mampu memisahkan keimanan yang dibangun di atas dasar pengorbanan Kristus.  Sebab Kristus sudah meruntuhkan segala tembok penghalang dan kesombongan manusia.  Semua satu di dalam Kristus, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan rapi tersusun, menjadi Bait Allah yang kudus di dalam Tuhan” (ayat21).

REFLEKSI
Mari merenungkan: seharusnya orang percaya yang telah ditebus-Nya tidak lagi membangun tembok yang memisahkan dirinya dengan sesama.

TEKADKU
Aku mau hidup tanpa tembok pemisah antara diriku dengan sesama, sebab Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah.

TINDAKANKU
Aku mau bekerjasama dengan siapapun dalam pelayanan, dalam perbedaan apapun yang berlandaskan kasih dan penebusan Kristus.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«