suplemenGKI.com

Jumat, 17 April 2015

16/04/2015

Karena Kasih, Kita Hidup sebagai Anak-Nya

1 Yohanes 3:1-7

Pengantar

Melanjutkan perenungan kemarin, dari bacaan yang sama, hari ini kita akan memahami bagaimana status sebagai anak-anak Allah itu memiliki dampak di dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kita dapat memahami pula perbedaan antara kehidupan orang yang percaya kepada Kristus dengan orang yang tidak mengenal Kristus.

Pemahaman

- Ayat 3           : Bagaimana status sebagai anak Allah itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang Kristen?

- Ayat 6           : Apakah Saudara yakin bahwa diri Saudara adalah seorang Kristen? Bagaimana kita memahami frasa, “setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi”

Rasul Yohanes memberikan penjelasan tambahan bahwa perubahan status dari musuh menjadi anak dalam diri mereka yang percaya kepada Kristus bukanlah pada tataran konseptual semata, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari orang tersebut.

Sebenarnya pengaruh ini sudah disinggung di dalam ayatnya yang pertama, ketika rasul Yohanes berkata, “dunia tidak mengenal kita”. Hal ini dipertegas dalam ayat-ayat berikutnya. Dunia tidak mengenal kita, karena gaya hidup kita yang berbeda dengan gaya hidup dunia. Dunia yang berdosa sudah tentu tidak mengenal Allah yang suci, termasuk “rambu-rambu kehidupan”.

Lalu, apakah berarti orang Kristen tidak dapat berbuat dosa lagi, karena telah memiliki “rambu-rambu kehidupan” yang berbeda? Ayat 6 menegaskan bahwa setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi. Pengertian tidak berbuat dosa lagi di sini bukan berarti orang Kristen adalah orang yang kebal terhadap dosa, namun orang Kristen tidak punya urusan dengan dosa. Dalam bahasa aslinya (Yunani), kata ini ditulis dalam bentuk waktu sekarang yang terus menerus  untuk kedua kata kerjanya. Hal yang menjadi penekanan di sini adalah ke-terus menerus-annya. Perilaku ini memang sudah sewajarnya muncul di dalam kehidupan orang Kristen, karena orientasi hidupnya sudah berbeda. Sebelum mengenal Kristus, orientasi hidupnya adalah untuk kesenangan dirinya sendiri. Tapi setelah mengenal Kristus, maka yang menjadi orientasinya adalah hidup untuk kesenangan Allah. Tatkala menjalani hidup yang berorientasi pada kesenangan Allah, seorang Kristen tentu masih dapat jatuh ke dalam dosa, tapi dia tidak akan menikmati dosa itu sehingga berjuang untuk segera meninggalkan dosa itu. Dengan demikian ia tidak terus menerus mengulangi dosa yang telah diperbuatnya itu. Hal ini sama dengan ketika seseorang telah merasakan indahnya hidup di dalam terang, maka ia tidak akan dapat menikmati hidup tanpa terang.

Refleksi

Dalam satu bulan terakhir ini, apakah kita telah dengan sengaja menutup indra kita sebagai wujud keengganan kita untuk menyadari perbuatan dosa kita?

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah saya untuk semakin hari semakin tanggap akan alarm peringatan-Mu terhadap dosa, agar saya tahu bagaimana seharusnya hidup sebagai anak-anak Allah. Amin.

Tindakan:

Saya akan membangun kesadaran untuk menjauh dari dosa dengan menghafal 1 Yohanes 3:6

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«