suplemenGKI.com

Markus 12:13-17

 

Langkah Tepat

 

Salah langkah adalah suatu hal yang tidak dikehendaki oleh siapapun. Memang, kita bisa belajar dari langkah yang salah. Tapi tak seorangpun mau dengan sengaja memilih langkah yang salah. Setiap kita akan berusaha menghindari salah langkah itu. Hari ini kita akan merenungkan tentang bagaimana agar kita tidak salah langkah.

-  Pernahkah Saudara kesulitan menentukan pilihan? Langkah apa yang Saudara ambil dalam situasi yang demikian itu?

-  Siapakah golongan Farisi? Siapa pula golongan Herodian? Mengapa mereka bisa bersama-sama datang kepada Kristus?

- Berapa kali kata “jujur” muncul dalam bacaan kita? Apa kesan Saudara ketika memperhatikan hal ini?

Renungan
Situasi yang diperhadapkan kepada Kristus ini bagaikan makan buah simalakama. Alkitab mencatat bahwa yang datang adalah beberapa orang dari golongan Farisi ditambah dengan beberapa orang dari golongan Herodian. Pernyataan ini menarik sebab pada umumnya golongan Farisi dan Herodian saling bermusuhan karena memiliki konsep yang berseberangan. Kaum Farisi adalah sekumpulan orang yang membenci Romawi, sedangkan Herodian adalah sekumpulan orang yang bekerja pada Herodes yang notabene kaki tangan Romawi. Namun, hari itu mereka bergandengan tangan untuk “menjebak” Kristus. Ini adalah kali kedua kaum Farisi bergandengan tangan dengan kaum Herodian. Sebelumnya mereka juga pernah bersekongkol untuk membunuh Kristus (Mar. 3:6). Istilah bahasa Yunani yang diterjemahkan “menjerat” adalah istilah yang biasanya digunakan para pemburu untuk memasang perangkap bagi binatang buruannya. Kalau Kristus melarang pemberian pajak kepada Kaisar, maka pernyataan itu akan dijadikan bukti oleh kelompok Herodian untuk mendakwa Kristus melawan Kaisar. Sebaliknya, kalau Kristus menganjurkan untuk membayar pajak kepada Kaisar, maka pernyataan itu akan dijadikan bukti oleh kelompok Farisi untuk mendakwa Kristus tidak nasionalis. Bahkan, anjuran itu dapat memantik amarah orang banyak. Karena masyarakat Yahudi pada waktu itu sangat tidak senang dengan pajak Romawi, yang menandakan bahwa mereka adalah bangsa taklukan. Ini adalah masalah harga diri bangsa.

Menghadapi situasi yang pelik ini, Kristus kembali kepada prinsip-prinsip firman Allah. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!”, jawab Kristus. Jawaban ini menandakan bahwa Kristus mengakui kedaulatan pemerintah sekaligus kedaulatan Allah. Hal yang senada juga ditegaskan oleh rasul Paulus kepada orang Kristen di Roma, di mana dalam pasalnya yang ketiga belas Paulus menuliskan tentang tanggungjawab umat Allah terhadap pemerintah. Dari sudut konteks Injil Markus, yang para pembacanya kebanyakan adalah orang Romawi, jawaban Kristus ini sungguh melegakan karena membebaskan orang Kristen dari tuduhan tidak setia kepada negara. Di sini kita melihat peran sikap hidup takut akan Tuhan membuat kita dapat menyikapi hidup dengan bijak.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«