suplemenGKI.com

Ibrani 10:11-18.

 

“Pengharapan Sejati Dari Sang Imam Besar Agung”

 

Pengantar:
Setiap manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) Dengan keberadaan manusia yang demikian maka tidak mungkin bisa langsung datang ke hadirat Tuhan, itu sebabnya dibutuhkan pengantara. Perjanjian Lama mengatur, setiap orang yang hendak datang membawa korban penghapusan dosanya kepada Allah harus melalui pengantara yaitu iman. Namun, sebelum iman bertindak sebagai pengantara ia terlebih dahulu harus membawa korban penghapus dosa bagi dirinya sendiri, kemudian baru bisa menjadi pengatara bgai umat dengan Allah. Peraturan demikian sangat tidak efektif, sehingga dibutuhkan pengatara yang sejati, siapakah pengatara kita yang sejati itu?

Pemahaman:

  1. Apakah maksud pernyataan penulis Ibrani dalam pasal 10:11?
  2. Bagaimanakah efektivitas Tuhan Yesus sebagai pengatara kita dengan Allah? (v. 12-17)
  3. Apa pesan utama pernyataan penulis Ibrani dalam pasal 10:18?

Pemahaman:
Ibrani 10:11, dikatakan “setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapus dosa” Pernyataan itu menegaskan bahwa imam sebagai pengatara umat dengan Allah sama sekali tidak efektif sehingga tidak mungkin dapat menolong umat keluar dari belenggu dosanya. Maka dibutuhkan Imam Besar Agung yang sesungguhnya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Pada ayat 12 di katakana bahwa “Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah” hendak menegaskan bahwa Tuhan Yesus yang mati di kayu salib menjadi korban penebusan dosa seluruh umat yang percaya kepada-Nya satu kali untuk selama-lamanya adalah pengantara yang sejati dan efektif. Keefektifannya adalah umat percaya tidak perlu lagi datang membawa korban dengan diperantarai oleh imam, tetapi melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib umat yang berdosa mendapatkan pengampunan sekaligus diperdamaikan dengan Allah sekali untuk selama-lamanya. Selanjutnya setiap umat percaya dapat menikmati relasi dengan Allah dan hidup kekal untuk selama-lamanya tanpa harus melalui perantara manusia. Konsekuensi logisnya bagi setiap umat percaya adalah harus memelihara pengharapan sejati atau keselamatan kekal dari Allah itu dengan hidup taat, setia dan melakukan kehendak-Nya melalui hidup yang memuliakan Tuhan dalam segala aspek kehidupannya.

Refleksi:
Mari merenung sejenak. Apakah saudara adalah pribadi yang sudah diperdamaikan dengan Allah dan sudah menerima pengampunan kekal oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus?

Tekadku:
Tuhan, saya bertekad memelihara hidup damai dengan Engkau melalui ketaatan, kesetiaan dan dengar-dengaran terhadap firman-Mu sehingga hidup saya memuliakan Engkau.

Tindakkanku:
Saya akan memelihara relasi kudus dengan Tuhan, karena saya sudah meneima pengampunan sejati di dalam Tuhan Yesus.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*