suplemenGKI.com

Jumat, 16 Mei 2014

15/05/2014

1 Petrus 2:4-10

Pelajaran Berharga dari Sebuah Batu

Pengantar
Melanjutkan perenungan atas nasihat rasul Petrus yang kita lakukan kemarin, kini marilah kita memperhatikan analogi lain yang digunakan rasul Petrus untuk menjelaskan tentang panggilan hidup orang percaya. Kalau sebelumnya rasul Petrus menggunakan bayi sebagai analogi, sekarang ia menggunakan batu.

Pemahaman
-  Apa saja yang dikatakan nas hari ini tentang Kristus sebagai batu? Coba daftarkan.
-  Apakah arti “dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani”? 

Setelah menasihatan agar umat Allah membuang segala kejahatan dan menjadi sama seperti bayi, rasul Petrus menasihatkan agar kita datang kepada Kristus yang digambarkan sebagai batu yang hidup. Hal pertama yang disinggung rasul Petrus mengenai batu yang hidup itu adalah batu tersebut ditolak manusia, tetapi dipilih dan dihormat Allah. Pernyataan tersebut nampaknya merujuk kepada peristiwa salib. Sebab teriakan para pemimpin agama Yahudi “Salibkan Dia, salibkan Dia” merupakan artikulasi penolakan mereka terhadap Kristus, yang kemudian dilegitimasi secara hukum oleh Pilatus, dengan menyerahkan Kristus kepada para pemimpin itu – “Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan” (Yoh. 19:16). Akan tetapi, karena salib itu pulalah maka “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).

Kristus sebagai batu yang hidup itu juga telah ditetapkan Allah sebagai batu penjuru. Fungsi batu penjuru adalah sebagai acuan di mana bebatuan yang lain diletakkan sehingga pondasi yang dibuat bisa menjadi lurus. Dengan demikian bangunan yang didirikan di atas pondasi tersebut turut dibangun secara lurus pula. Poin ini sangat penting bagi kita yang akan digunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani. Sebagaimana para tukang bangunan akan mengevaluasi apakah letak bebatuan pondasi itu lurus dengan batu penjuru atau tidak, demikianlah kita harus mengevaluasi apakah kita sejalan dengan Kristus ataukah tidak. Apabila kita enggan untuk meluruskan diri dengan mengacu pada Sang Batu Penjuru tersebut, maka pondasi rumah rohani itu akan bengkok dan bangunannya akan ambruk.

Refleksi
Betapa pentingnya memahami Kristus sebagai batu penjuru. Ketidakpahaman konsep ini akan membuat kita enggan untuk mengevaluasi diri, apakah kita sudah segaris dengan Kristus atau tidak. Akibatnya, kita tidak dapat menjadi bagian dari rumah rohani yang kokoh. Seberapa sering kita melakukan evaluasi diri agar segaris dengan Kristus? Adakah kita memiliki kerendahan hati untuk melakukan evaluasi tersebut?

Tekadku
Doa: Ya Tuhan, berilah saya kerendahan hati untuk bersedia dikoreksi dan mengoreksi diri sendiri. Amin.

Tindakanku
Selama seminggu ke depan, setiap malam saya akan meluangkan waktu 15 (lima belas) menit untuk mengevaluasi apakah kehidupan saya sepanjang hari itu telah segaris dengan kehendak Kristus atau tidak. 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»