suplemenGKI.com

Jumat, 16 Juni 2017

15/06/2017

Roma 15:1-3

 

Orang Yang Lemah Dan Orang Yang Kuat

Pengantar:
Di dunia yang semakin individualistis ini, semakin sulit rasanya menemukan orang yang dengan sungguh-sungguh dan tulus untuk mempedulikan orang lain yang lemah. Semua orang terjebak dalam perangkap mementingkan diri sendiri, maka kemudian terjadilah kondisi bahwa yang lemah akan semakin lemah dan yang kuat akan semakin kuat. Jika kita perhatikan situasi di negara kita Indonesia akhir-akhir ini, semakin terang-terangan bahwa ada kelompok atau orang-orang tertentu yang merasa kuat dalam segi populasi, pengaruh, kedudukan, jabatan dan paham atau ideologinya dengan tanpa malu-malu menindas, menekan dan menolak pihak-pihak yang dianggap lemah, tidak berdaya dan berseberangan dengan pahamnya. Sehingga dari banyak sisi, baik kesempatan, keadilan kelompok atau pribadi-pribadi yang lemah menjadi semakin hilang dan habis. Hari ini Alkitab mengajar kita justru sebagai orang-orang percaya, bahwa yang kuat wajib menanggung yang lemah.

Pemahaman:

  1. Apa yang melatarbelakangi nasihat Paulus: Yang kuat wajib menanggung yang lemah?
  2. Apa yang hendak dijelaskan oleh Paulus dalam ayat 3?

Roma pasal 15 ini terkait dengan pasal 14. Paulus menghayati bahwa keadaan jemaat Tuhan dalam kenyataannya tidak semua memiliki iman yang kuat. Ada di antara jemaat yang memang sudah kuat imannya, tetapi tidak sedikit yang masih lemah pemahamannya tentang iman yang benar. Ini sebuah realita yang tidak bisa dipungkiri. Bagaimana sikap umat Tuhan ketika berhadapan dengan kenyataan demikian? Paulus menasihatkan supaya jangan saling menghakimi, jangan saling menyakiti, jangan saling menghina (14:13-23) Pasal 15:1-3 ini Paulus lebih konkrit lagi menasihati umat Tuhan, agar jika terdapat orang yang lemah imannya dalam arti yang masih lemah pemahaman akan iman yang benar, maka yang kuat imannya wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat itu. Agar tindakan untukĀ  menanggung yang lemah menjadi bermakna, Paulus tekankan harus didasari oleh motivasi yang tidak mencari kepentingan sendiri melainkan demi kebaikan untuk membangun yang lemah. Untuk itu harus didasari oleh semangat: kasih yang tulus, kerendahan hati, rela berkorban. Itulah yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus ketika Ia harus turun ke dunia menjadi Hamba yang menderita bahkan rela sampai mati di salib, Dia tidak mementingkan diri-Nya sendiri tetapi dengan kasih yang murni menanggung kita yang lemah. Jadi menanggung sesama yang lemah adalah meneladani apa yang telah Yesus lakukan bagi kita.

Refleksi:
Anda dan saya dulu adalah orang yang lemah, tetapi karena Yesus mau menanggung kita maka kita sekarang menjadi orang yang berharga di mata Tuhan.

Tekadku:
Tuhan Yesus, ampuni aku jikalau selama ini aku lebih suka menghakimi orang yang lemah daripada menolongnya agar ia menjadi kuat.

Tindakkanku:
Berjuang agar setiap kehadiran, setiap pelayanan dan setiap karyaku di manapun adalah untuk menolong sesama agar lebih mengenal Engkau dengan iman yang benar.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*