suplemenGKI.com

Yakobus 3:1-12.

 

“Perkataan Yang Membawa Berkat”

 

Pengantar:
“Lebih baik berbicara satu kata tetapi bermakna, dari pada berbicara seribu kata namun sia-sia” Kalimat tersebut mungkin terdengar berlebihan, tetapi sesungguhnya kalimat itu mengingatkan kita dalam berkata-kata walaupun sedikit namun menjadi berkat atau bermakna bagi yang mendengarkannya, daripada banyak berkata-kata tetapi menjadi batu sandungan bagi yang mendengarkannya. Bacaan hari ini mengingatkan kita agar setiap perkataan yang diucapkan sebaiknya membawa berkat bagi yang mendengarkannya. 

Pemahaman:

  1. Apakah maksud Pernyataan Yakobus pada ayat  1-2?
  2. Bagaimanakah gambaran tentang lidah yang bermakna dan yang tidak bermakna? (3-5a)
  3. Bagaimanakah seharus mempergunakan lidah dengan benar? (v. 9-12) 

Pernyataan Yakobus pada ayat 1 hendak mengingatkan bahwa setiap kita apapun profesinya, kita perlu berhikmat dalam berkata-kata. Tidak cukup hanya fasih berbicara tetapi juga dituntut keteladanan hidup, minimal sesuai dengan apa yang diucapkan. Ketika kehidupan sehari-hari tidak sesuai dengan apa yang diucapkan maka akan dipandang tidak layak dan tidak menjadi teladan bagi sesama. Ayat 2 hendak menjelaskan bahwa pada masa itu perkataan adalah sarana komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Jadi perkataan yang benar ditopang dengan keteladanan hidup yang benar dalam berkomunikasi menjadi penting. Pada ayat 3-5 Yakobus menggambarkan lidah yang bermakna itu seperti tali kekang, suatu benda berukuran kecil yang dipasang pada mulut kuda yang berfungsi untuk mengatur, mengendalikan dan mengarahkan pergerakan tubuh kuda agar sesuai dengan kehendak yang mengendalikannya. Kemudian seperti kemudi kapal, sebuah alat kecil yang dipasang di ujung pasak kemudi kapal, yang walaupun ukurannya sangat kecil bila dibandingkan dengan sebuah kapal tetapi mampu mengarahkan dan mengendalikan sebuah kapal yang besar. Lidah adalah bagian organ tubuh yang berukuran kecil bila dibandingkan dengan tubuh itu sendiri, tetapi lidah dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai besar dan bermakna apabila dipergunakan dengan bijaksana dan berhikmat (v. 5a) Namun lidah juga bisa seperti api yang dapat membakar hutan yang besar sehingga sangat membahayakan (v. 5b-6) jika digunakan dengan keliru. Perkataan yang diucapkan lidah tentunya bersumber dari hati, maka sangat penting menjaga dan memelihara hati, seperti dikatakan oleh Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” 

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak. Berapa banyak kita berkata-kata setiap hari, berapa banyak yang menjadi berkat dan berapa banyak yang justru menjadi batu sandungan bagi sesama?

Tekad:
Ya Tuhan, terimakasih untuk lidah yang Engkau berikan kepadaku, ajarlah aku untuk memakai lidah ini untuk menjadi berkat bagi sesama.

Tindakan:
Senantiasa memohon kepada Tuhan untuk memperbaharui hati agar dari hati yang bersih terpancar kata-kata yang menjadi berkat bagi sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*