suplemenGKI.com

I Korintus 1:1-9

LEGALITAS KEHAMBAAN

Surat Korintus dialamatkan Paulus kepada jemaat Kristen di kota Korintus.  Surat ini bisa dikatakan sebagai surat penggembalaan kepada jemaat yang sedang dilanda  persoalan  yang berdampak pada perpecahan dalam jemaat.  Penting untuk memahami bagian awal ini sebagai pengantar sebelum Paulus menyampaikan tegurannya.

  • Apa yang Paulus pahami tentang Allah dan dirinya? (ay. 1, 2, 9)
  • Apa yang Paulus pahami tentang jemaat Korintus di hadapan Allah? (ay. 4-9)
  • Apa isi ucapan syukur Paulus di bagian ini? (ay. 4)

Renungan

Salah satu ciri surat penggembalaan  Paulus adalah adanya penegasan tentang kerasulannya.  Meskipun Paulus tidak termasuk ke dalam bilangan keduabelas rasul, namun ia meyakini kerasulannya bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan karena “kehendak Allah” (ay.1).  Paulus berani menyatakan dirinya sebagai “rasul Yesus Kristus” (ay. 1), karena sama seperi yang lain, Yesus sendiri yang telah memanggilnya secara langsung untuk menjadi rasul, ketika ia berada dalam perjalanan ke Damsyik.

Penegasan kerasulan atau legalitas kehambaan Paulus tidak dimasudkan sebagai bentuk arogansi kekuasaan, antara dirinya sebagai perintis pelayanan di Korintus dengan jemaat secara umum, melainkan sebagai apologia terhadap pihak-pihak yang meragukan kerasulannya.  Lebih dari itu, Paulus melakukannya sebagai alasan mengapa ia berhak menyampaikan kata pengajaran dan nasihat kepada jemaat (ay. 1, 2).  Khususnya terkait dengan persoalan yang sedang melanda jemaat.  Tanpa peranannya sebagai rasul Kristus yang ditunjuk Allah sendiri (Kis. 9:1-9a), Paulus tidak mempunyai wewenang atau wibawa rohani apapun.

Di dalam legalitas kehambaannya,  Paulus juga menekankan kesetaraan panggilan dengan jemaat untuk menjadi umat yang kudus, dan untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus (ay. 2, 8-9).  Semuanya menjadi bersaudara, saling mendengarkan, karena mereka semua mempunyai satu Bapa (ay. 3), dan ber-Tuhan-kan Yesus Kristus yang memiliki kuasa dari Allah Bapa.  Pada akhirnya, keterkaitan di antara Paulus dan jemaat terjadi karena berada dalam satu rumah tangga rohani, dengan damai sejahtera yang melingkupinya.

Melalui perikop ini, Paulus mengajarkan bagaimana memahami dan menempatkan legalitas kehambaan sebagai pelayan secara benar.  Pelayanan yang tidak lepas dari persoalan akan semakin bertambah runyam bila ada orang-orang yang tidak tepat memahami legalitas kehambaannya.  Akibatnya yang muncul adalah sikap-sikap arogan, sok kuasa, suka mencari pujian diri, inginnya dihormati, ingin diakui dan dilihat jemaat.  Parahnya, sikap-sikap negatif tersebut seringkali dilakukan dengan mengatasnamakan legalitas kehambaan mereka sebagai pelayan, baik di gereja maupun lembaga gerejawi.

Sikap-sikap negatif tersebut bukan hanya akan berdampak buruk bagi tempat pelayanan, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Allah.  Menjadi rasul atas kehendak Allah berarti merupakan kesempatan untuk menjadi pelayan, sama seperti Yesus Kristus yang datang

“bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).

Legalitas kehambaan menjadi kesempatan melayani, bukan untuk dilayani.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«