suplemenGKI.com

Efesus 2:1-7

 

Janganlah Seperti Kami Yang Dulu

Pengantar:
Sering orang tua berkata kepada anak-anaknya “nak, nanti kalau kamu sudah besar, jangan seperti papa atau mama waktu dulu ya” Pesan tersebut sepertinya sederhana dan biasa saja. Tetapi sesungguhnya pesan itu mewakili seluruh hidup yang tidak nyaman, tidak menyenangkan atau pengalaman masa lalu yang buruk dari orangtua yang berpesan tersebut. Dengan harapan supaya anak-anaknya hidup tidak sesulit, semenderita dan seburuk mereka dulu. Dalam teks Efesus 2:1-3 Paulus mengingatkan kepada jemaat di Efesus agar meninggalkan hidup yang buruk dan hidup dengan pola yang lebih baik.

Pemahaman:

- Apa yang melatar belakangi nasihat Paulus kepada jemaat Efesus dengan menyamakan dirinya “dulu” dengan jemaat Efesus yang sekarang (dalam konteks ini) v.1-3.

- Apakah yang menyebabkan Paulus berdeda antara dulu dengan sekarang? (4-6)

- Harapan apa yang dikehendaki Paulus bagi jemaat Efesus di masa mendatang? (v. 7)

Paulus adalah salah seorang rasul yang memiliki latar belakang kehidupan yang tidak memperkenankan Tuhan, dia boleh dikatakan seorang gembong penganiaya umat Tuhan (band. Kis 8:1-3) Dalam hal ini Paulus hendak mengatakan bahwa dirinya dulu juga mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya sebagai penganiaya pengikut Kristus. Begitupun jemaat Efesus dalam konteks ini, mereka hidup mengikuti jalan dunia ini yang menuju pada kebinasaan (v. 2) Penuh dengan hawa nafsu daging, yang lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat memuaskan hal-hal lahiriah atau kedagingan – segala sesuatu yang bermuara pada hal-hal yang jahat dan pantas dihukum, bahasa Paulus “dimurkai”

Namun dengan begitu kontras, pada ayat 4-6 Paulus menjelaskan apa yang menyebabkannya terbebas dari kehidupan yang bermuara pada kebinasaan. Yaitu ada kasih karunia Allah yang besar, yang alih-alih menghukum tetapi justru Allah menyelamatkan umat-Nya dari hukuman sehingga terluput dari maut atau kematian kekal. Menurut Paulus Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, telah dilimpahkan-Nya kepada kita, itulah yang telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan, kekeliruan masalalu kita. Jika itu telah terjadi kepada Paulus maupun jemaat Efesus, maka anugerah dan kasih karunia yang sama juga berlaku bagi kita yang mau meninggalkan kehidupan duniawi kemudian hidup dalam kehidupan oleh kasih karunia Allah. Di ayat. 7 Paulus memberi harapan kepada kita, bahwa Allah akan menunjukan kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah sesuai dengan kebaikan-Nya.

Refleksi:
Renungkanlah, betapapun buruknya hidup lama kita, ketika kita menaruh pengharapan kepada-Nya, maka kita akan menerima kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah.

Tekad:
Tuhan, semakin aku menghayati kasih karunia-Mu, semakin aku mau berharap pada-Mu.

Tindakan:
Tuhan aku ingin Engkau senantiasa memeriksa hidupku, dan tunjukan kehidupan lamaku yang dapat membawa pada kematian, agar aku dapat menyadarinya dan bertobat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«