suplemenGKI.com

Jumat, 12 Juni 2020

11/06/2020

SUKACITA SAAT BERIBADAH

Mazmur 100:1-5

 

Pengantar
Ibadah dapat menjadi sebuah rutinitas belaka yang tanpa ada maknanya. Jika hal ini telah terjadi dalam hidup kita, maka sebaiknya kita harus segera mengadakan evaluasi diri di hadapan Tuhan.Ibadah bukan hanya sebagai pertemuan formal atau rutinitas semata. Begitu juga dengan pemazmur  yang ingin menghindari hal itu terjadi. Oleh sebab itu pemazmur berusaha mengungkapkan makna ibadah kepada Tuhan. Mari kita renungkan.

Pemahaman

  • Ayat 1-2 : Apakah isi seruan dan ajakan yang disampaikan oleh pemazmur?
  • Ayat 3-5 : Apakah yang menjadi alasan bagi pemazmur untuk bisa memuji Allah dengan penuh sukacita?

Mazmur ini digolongkan sebagai mazmur pujian. Melalui pujian pemazmur ingin mengajak umat untuk menyatakan bahwa Allah itu baik. Ajakan ini dimulai di ayat 1 yang mengajak umat di seluruh bumi untuk bersorak-sorak bagi Tuhan. Kemudian ia juga mengajak supaya umat beribadah kepada Tuhan dengan sukacita (Ay. 2).

Pemazmur juga mengajak umat untuk memikirkan alasan untuk memuji Allah dan bersorak-sorak baginya dengan sukacita. Pemazmur mengatakan alasan mengapa kita harus memuji-muji Allah adalah karena Dialah yang telah menjadikan kita, kita ini adalah kepunyaan Allah, kawanan domba gembalaan-Nya. Tanpa kasih Allah kita tidak ada di dunia ini. Allah-lah yang telah menciptakan manusia dan yang telah menebus umat-Nya menjadi milik-Nya (Ay. 3). Dengan alasan yang sangat jelas inilah kemudian dilanjutkan dengan ajakan untuk masuk ke dalam pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur. Kebaikan Allah diresponi dengan hati yang penuh syukur dengan mendekatkan diri kepada-Nya serta menghampiri tahta-Nya sambil memuji kasih setia-Nya dengan penuh sukacita.

Melalui penghayatan inilah pemazmur mengajak umat untuk beribadah bukan lagi sebagai rutinitas atau paksaan, melainkan dengan penuh kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan, penuh rasa syukur dan sukacita. Jika kita mampu memahami kebaikan Allah dalam hidup kita dengan baik, maka ibadah kita bukanlah ibadah yang sekedar rutinitas, tetapi ibadah yang dilakukan dengan penuh sukacita.

Refleksi
Pernahkah kita merenungkan, siapa kita dihadapan Allah? Kita adalah manusia yang penuh dengan dosa, dan Allah yang penuh kasih itu menjadikan kawanan domba gembalaan yang sangat dikasihi-Nya. Dengan menyadari hal ini, maka sepatutnyalah hati kita bisa penuh akan rasa syukur dan sukacita kepada Allah. Wujudkanlah sukacita itu melalui beribadah dengan sikap yang benar dan hati yang siap.

Tekadku
Ya Tuhan, tolong ampunilah kami jika selama ini kami masih belum bisa menghayati siapa diri kami di hadapan Tuhan. Sehingga kami belum memiliki sikap yang jujur, rendah hati dan sikap yang benar ketika beribadah kepada-Mu.

Tindakanku
Mulai hari ini saya akan berusaha mempersiapkan diri untuk beribadah dan memuji Tuhan dengan sikap hati yang benar dan penuh rasa syukur di hadapan Tuhan. Bisa memuji Tuhan dengan hati yang jujur dan penuh sukacita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«