suplemenGKI.com

Hati-hati dengan kekuatan “lidah”.

Yakobus 3:1-12

Pengantar

Kita tentu tahu pepatah “memang lidah tak bertulang”, yang bahkan terdapat dalam lirik suatu lagu. Pepatah ini mengenai kekuatan suatu anggota tubuh yang nampak dan terasa lunak dan lembut, namun sangat lentur dan sangat kuat, lidah. Lidah mampu menimbulkan berbagai pola dan susunan bunyi atau suara yang bisa terucap atau terdengar, yang dapat melukiskan atau malah menimbulkan kegembiraan atau kesedihan, kesenangan atau kebencian, kekaguman atau cela, di samping mampu mengecap pahit manis masam tawar pedas, dsb. Hari ini kita akan melihat, apa yang dikatakan Firman Tuhan mengenai lidah.

Pemahaman

Ay. 4-8      : Bagaimanakah kedahsyatan lidah digambarkan oleh Yakobus di sini?

Ay. 9-12    : Bagaimana pula ambiguitas lidah digambarkan oleh Yakobus dalam ayat-ayat ini?

Lidah diibaratkan dengan hal-hal yang nampak kecil dan sepele, namun sanggup mempengaruhi atau menguasai benda yang jauh lebih besar dan kuat darinya. Misalnya, lidah diumpamakan seperti “kemudi” pada kapal (yang berkali-kali lipat ukurannya), atau “api” (dapat menjadi penerang atau untuk memasak, dan dapat pula menyebabkan kebakaran). Lidah dianggap dapat lebih berbahaya daripada binatang “liar”, “buas” atau yang “sangat beracun”. Lidah juga dibandingkan dengan “mata air”, dan dengan tiga macam pohon buah khas Timur Tengah kala itu.

Lidah juga mampu mengucapkan dua hal yang saling bertentangan, berkat/pujian dan kutukan. Hal semacam itu mungkin banyak kita jumpai sehari-hari, bahkan sebagian mungkin merasa terbiasa. Namun menurut surat Yakobus kepada jemaat Tuhan itu, seharusnya itu tidak terjadi dalam jemaat-Nya. Mungkin anda pernah mendengar bahwa di suatu gua di Amerika Tengah dijumpai ada pertemuan air asin (laut) dan air tawar (sungai/danau). Namun ternyata juga bahwa keduanya tidak bercampur, seperti ada batas yang jelas. (Ini tentu berbeda dengan air payau di muara sungai.) Keduanya juga berasal dari sumber yang berbeda.

Di ayat 11 ini disebutkan dua istilah yang harfiahnya berarti “(air) yang manis” dan “(air) yang pahit”. Sedangkan ayat 12 menyebutkan “(air) asin” dan “air manis”. Meski demikian, umumnya ini memang dimengerti menunjukkan air segar yang dapat diminum dan yang sebaliknya tidak dapat diminum.

Refleksi

Bagaimanakah lidahmu berfungsi? Andakah yang menguasai lidahmu, ataukah sebaliknya? Baikkah untukmu maupun keluargamu serta teman-temanmu, atau…?

Tekad

Mengucapkan hal-hal yang membangun damai dan keselarasan, supaya orang menyadari bahwa karakter Tuhan yang mulia menguasaiku.

Tindakan

Lebih hati-hati berbicara terus terang, dengan tetap jujur dan benar.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*