suplemenGKI.com

Kisah Para Rasul 8:14-17

 

Kemuliaan Tuhan Nyata dalam Permusuhan

Pengantar

Permusuhan itu selalu menghancurkan. Berbagai bentrok, baik antar suku, antar kampung, maupun antar kelompok, semuanya membuktikan bahwa permusuhan itu menghancurkan. Hari ini kita akan merenungkan bagaimana kemuliaan Allah menjadi nyata dalam permusuhan yang terjadi di antara dua kelompok.

 

Pemahaman
Menurut Saudara, apakah penumpangan tangan diperlukan agar seseorang menerima Roh Kudus? Mengapa demikian?

Sesungguhnya Samaria dan Yudea lokasinya berdampingan. Namun hubungan mereka berseberangan. Meski sama-sama orang Yahudi, tapi orang Yahudi yang tinggal di Yudea dan Galilea tidak berhubungan dengan orang Samaria, bahkan dapat dikatakan kalau mereka bermusuhan. Buruknya hubungan keduanya itu sangat jelas dalam percakapan antara Kristus dan perempuan Samaria, di mana Kristus berkata, “Berilah aku minum” dan perempuan itu menjawab, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” – Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. (Yoh. 4:9)

Menurut sejarah, hubungan keduanya memburuk karena orang Samaria dianggap tidak dapat menjaga kemurnian keyahudian mereka. Akibatnya, orang Samaria menjadi “Yahudi blasteran”. Karena itu maka mereka bukan hanya dianggap lebih rendah, tetapi juga dimusuhi dan dikucilkan. Permusuhan ini sedemikian berurat akar sehingga sulit untuk dihapuskan.

Meski demikian, karena penganiayaan yang terjadi, para murid akhirnya memberitakan Injil juga kepada orang Samaria sehingga mereka menerima firman. Nampaknya Allah sengaja “menunda” pencurahan Roh Kudus atas orang Samaria yang telah percaya itu. Menurut Efesus 1:13, ketika seseorang percaya kepada Kristus, maka pada saat itu juga ia dimeteraikan dengan Roh Kudus. Itu berarti dalam diri setiap orang percaya ada Roh Kudus. Orang-orang Samaria itu baru menerima Roh Kudus setelah Petrus dan Yohanes, yang dianggap sebagai soko guru gereja, menumpangkan tangan atas mereka. Dengan demikian para murid dapat melihat bahwa Allah tidak menolak orang Samaria yang mereka benci itu. Petrus dan Yohanes telah menjadi saksi mata dari peristiwa tersebut. Jadi, Kalau Allah mengasihi mereka, seharusnya para murid juga mengasihi mereka.

Oleh karena itu, peristiwa “penundaan” hadirnya Roh Kudus dalam hidup orang percaya di Samaria tidak dapat dijadikan patokan umum bahwa orang harus mendapatkan penumpangan tangan agar dapat menerima Roh Kudus. Peristiwa Samaria adalah peristiwa khusus dengan latar belakang khusus seperti yang telah dijelaskan di atas.

 

Refleksi
Melihat bahwa Allah membimbing para murid untuk belajar memandang sesama sebagai obyek kasih Allah, kita juga perlu belajar untuk memandang sesama sebagai orang-orang yang patut dikasihi. Bukan karena sesuatu yang ada pada diri mereka, melainkan karena Allah mengasihi mereka.

 

Tekad
Belajar mengasihi sesama adalah sebuah kerinduan yang patut terus diasah agar kita dapat memiliki hati yang penuh kasih seperti Bapa sorgawi.

 

Tindakan
Kita dapat belajar mengasah kasih kita dengan mengucapkan, “Aku mengasihimu” kepada mereka yang seharusnya merasakan kasih kita, misalnya: pasangan, anak, orang tua, saudara.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«