suplemenGKI.com

1 Korintus 3:1-9

 

Hidup Dalam Damai Membutuhkan Kedewasaan Rohani

Pengantar:

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti suatu acara di luar kota bersama dengan seorang teman. Setelah acara selesai kami akan pulang, namun sebelum pulang kami menuju ke sebuah pusat oleh-oleh terkenal di kota tersebut untuk membeli oleh-oleh buat keluarga. Teman saya ini setiap kali membeli satu macam barang atau oleh-oleh, ia harus beli lima buah dengan jenis, merek, model dan warna yang sama. Misalnya: Membeli topi, ia akan membeli lima buah topi dan ke lima-limanya harus sama persis. Saya lalu bertanya, mengapa membeli setiap jenis barang harus lima buah dan sama persis? Jawabnya, yang di rumah ada lima orang, dan jika membeli barang berbeda-beda pasti akan terjadi saling iri dan ada yang merasa tidak puas, jadi satu macam barang harus beli lima buah dan tidak boleh berbeda sama sekali. Demi menjaga suasana damai dalam rumah.

Pemahaman:

  1. Bagaimanakah ciri-ciri orang yang belum dewasa secara rohani menurut Paulus? (1-4)
  2. Bagaimanakah cara terbaik menyikapi suatu perbedaan dalam sebuah komunitas? (5-8)

Dari catatan 1Korintus 3:1-9 ini Paulus melihat ada persoalan serius yang terjadi di jemaat Korintus, yang bisa menimbulkan perpecahan antar anggota jemaat, yaitu ketidakdewasaan atau belum dewasanya kerohanian jemaat. Ciri-ciri ketidakdewasaan rohani dalam jemaat adalah, Pertama: Belum mampu menerima ajaran yang keras (sifatnya menegur, ajaran yang lebih dalam, mengingatkan dengan keras dan sebagainya) Paulus menggambarkan sebagai makanan keras. Makanan keras tidak bisa langsung ditelan, tetapi membutuhkan kerja keras untuk mengunyah dan mencernanya. Sebaliknya makanan yang ringan diibaratkan seperti air susu, yang tidak perlu dikunyah, tetapi bisa langsung ditelan, dan itulah makanan bayi. Kondisi jemaat Korintus menurut Paulus masih tergolong jemaat yang baru bisa makan makanan ringan seperti susu. Ke dua: Jemaat Korintus masih banyak yang suka iri hati satu dengan yang lain, mudah tersinggung, suka berselisih dan suka mengelompokkan diri berdasarkan favoritisme. Kondisi ini sangat rawan terjadi perpecahan. Paulus kemudian mengajarkan, supaya jemaat Korintus tidak hidup dalam iri hati, tersinggungan, suka berselisih apalagi mengelompokkan diri dengan siapa yang disukainya. Semua anggota jemaat, pemimpin, aktivis harus memfokuskan hidup pada satu obyek yaitu Tuhan Yesus yang kepala gereja dan yang memberi pertumbuhan iman.

 

Refleksi:
Saudara, mungkin kita sedang terjebak pada komunitas pengelompokan berdasarkan kepada siapa aku suka. Hal itu menunjukkan salah satu ciri belum dewasa secara rohani. Baiklah kita menghindari sikap-sikap demikian agar tidak terjadi perpecahan di dalam komunitas kita.

 

Tekad:
Tuhan, ampuni saya jika selama ini saya cenderung bersikap eksklusif dengan sesama.

 

Tindakan:
Mulai belajar terbuka dan menerima siapapun juga yang ada di komunitas saya, terutama di gereja dan pelayanan, agar terhindar dari bahaya perpecahan dalam jemaat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«