suplemenGKI.com

PERAMAH BUKAN PEMARAH

Efesus 4:32

 

Pengantar
Seorang gadis bekerja di satu perusahaan daging. Suatu hari sebelum pulang, ia  masuk ke ruang pendingin untuk memeriksa sesuatu. Saat itu ia lupa mengatur sistem lock ruangan sehingga  ia terkunci di dalam. Ia sadar bila ia akan mati bila tak ada yang menolongnya, maka ia menjerit-jerit dan menggedor-gedor dinding, namun tak ada yang datang menolongnya sebab semua karyawan telah pulang. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan gadis itu melihat security masuk, maka ia pun tertolong.  Dengan luapan kegembiraannya, si gadis menanyakan bagaimana security bisa  tergerak datang dan menolongnya. Security berkata, “ Sudah 35 tahun saya bekerja di sini, namun tak seorang pun menyapa saya dengan ramah selain Anda. Dan sore ini saya belum mendengar Anda menyapa saya. Itu berarti Anda belum pulang. Saya menjadi kuatir dan berpikir jangan-jangan terjadi sesuatu di dalam sebab pernah ada yang meninggal dunia karena terjebak di ruang pendingin”.

Bayangkanlah betapa besar nilai keramahan. Dalam bacaan  hari ini kita melihat Rasul Paulus menyebut keramahan sebagai salah satu tanda manusia baru. Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 32: Mengapa keramahan menjadi tanda manusia baru?
  • Bagi orang percaya, apakah yang menjadi dasar sikap  ramah ?

Ayat ini dimulai dengan kata “tetapi hendaknya”  untuk menyatakan adanya pertentangan  dengan ayat 31.  Sebagai ganti kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan kejahatan-kejahatan lain, Paulus menyebut keramahan, kasih mesra dan saling mengampuni.  Manusia baru bukanlah pemarah tetapi peramah.

Dulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang ramah, tapi lama-kelamaan keramahan itu banyak dicemari kemarahan. Berita  tentang demonstrasi yang brutal, terorisme, permusuhan dan pembunuhan menghiasi media massa . Di rumah pun bisa  terjadi pertikaian, permusuhan dan kata-kata kasar yang melukai hati. Sikap ramah dan kasih mesra  semakin dirusak oleh kemarahan. Padahal semua orang merindukan keramahan dan kasih mesra.

Kedua hal itu (keramahan dan kasih mesra) harus dinyatakan dalam mengampuni, memaafkan satu sama lain. Pengampunan dilakukan berdasarkan pengampunan yang ALLAH berikan kepada manusia di dalam KRISTUS. Dialah yang memungkinkan manusia dapat saling mengampuni. Sikap yang mampu mengampuni  dan yang dapat menyatakan keramahan dan kasih mesra adalah sikap yang mudah terlihat dari manusia baru. Marilah menyatakannya dalam hidup sehari-hari.

Refleksi
Ingatlah lagu “ kemesraan ini janganlah cepat berlalu”. Lagu ini merupakan kerinduan akan keramahan dan kasih mesra dalam relasi. Bagaimana keadaan di rumah  Saudara? Apakah dipenuhi sikap ramah dan kasih mesra? Ataukah kemesraan itu telah berlalu? Mari menjadi manusia baru yang selalu mewarnai lingkungan sekitar kita dengan sikap ramah. 

Tekadku
Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk selalu bersikap ramah terhadap siapa pun, juga tehadap orang yang menyakiti hatiku.

Tindakanku

  • Aku akan selalu menyapa dengan ramah, setiap orang yang kujumpai.
  • Bila dalam kebaktian, ada umat yang belum ku kenal, aku akan menyapanya dengan ramah dan mengajaknya berkenalan.
  • Aku mau mengampuni semua orang yang telah mengecewakan dan menyakitiku.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«