suplemenGKI.com

Jumat, 1 April 2016.

31/03/2016

Mazmur 118:14-29.

 

Nyanyian Syukur Karena Diselamatkan

Pengantar:

Adalah suatu fakta bahwa semua orang tanpa terkecuali pasti pernah menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya. Entah itu karena kesalahannya sendiri (internal) atau oleh pihak lain (eksternal).Ketika seseorang menghadapi suatu kesulitan, ia akan berusaha untuk keluar dari kesulitan itu. Berbagai cara pun dilakukannya, termasuk meminta bantuan dari pihak lain. Sebagai orang percaya, tentu pilihan utama dan pertama bagi kita adalah berseru kepada Tuhan. Itulah yang dilakukan pemazmur ketika dia mengalami berbagai kesulitan.

Pemahaman:

  1. Apa yang melatarbelakangi nyanyian puji-pujian pemazmur dalam bagian ini? (v. 14-18)
  2. Apa yang mendorong pemazmur sehingga begitu ingin masuk ke Bait Allah? (v. 19-21)
  3. Allah yang bagaimanakah yang hendak dipuji dan disembah oleh pemazmur? (v. 22-29)

Perjalanan kehidupan pemazmur, jika kita teliti membaca pasal-pasal sebelumnya memang penuh dengan pergumulan, misalnya di pasal 116:3, pemazmur menghadapi keadaan yang bahkan bisa mencelakakan jiwanya, namun ia terluput oleh karena pertolongan Tuhan. Pernyataan pemazmur di ayat. 14-18, merupakan konklusi atau kesimpulan bahwa Tuhanlah yang selalu menolongnya ketika ada dalam masalah atau bahaya. Untuk itulah pemazmur mengungkapkan syukurnya kepada Tuhan dengan nyanyian puji-pujian (ps.118)

Rasa syukur pemazmur tidak hanya diungkapkan melalui nyanyian puji-pujian, tetapi meningkat menjadi suatu kerinduan untuk masuk menyembah, memuji dan melayani Allah di dalam Bait Allah. Ungkapan di ayat. 19-21 sesungguhnya suatu kerinduan yang ingin diwujudkan dengan masuk ke Bait Allah. Kalimat “Pintu gerbang kebenaran” secara simbolis menunjuk pada Bait Allah yang diyakini sebagai lambang kehadiran Allah bagi umat Israel. Pemazmur hendak mewujudkan rasa syukurnya atas pertolongan Allah dengan lebih nyata ketika ia dapat memuji, memuliakan dan melayani Allah di Bait suci-Nya yang kudus.

Bagi pemazmur, Allah yang telah mendengar seruannya ketika minta tolong dan telah menjawab dengan melepaskannya dari maut adalah Allah yang diibaratkan sebagai batu penjuru yaitu Allah yang harus menjadi tujuan, fokus, orientasi puji-pujian dan syukurnya. Karena Allah yang demikianlah yang telah menyelamatkannya. Batu penjuru dalam Perjanjian Baru menunjuk kepada Tuhan Yesus, yang walaupun ditolak oleh manusia tetapi justru Yesuslah yang menyelamatkan manusia dari dosa (Band. Mat 21:42, Mark 12:10-11)

Refleksi:

Ketika anda dilanda kesulitan dan pergumulan hidup, kepada siapakah anda akan berseru? Belajar dari pemazmur, berserulah kepada Tuhan Yesus Sang Batu Penjuru, Dia sanggup memberi kekuatan kepada anda, dan bersyukur atas anugerah pertolongan-Nya.

Tekad:

Tuhan Yesus, ajarlah aku agar memiliki iman yang teguh hanya kepada-Mu apapun yang aku hadapi dalam hidup ini.

Tindakkan:

Aku mau berseru hanya kepada Tuhan Yesus saja untuk mendapatkan kekuatan ketika aku berada dalam berbagai-bagai kesulitan hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«