suplemenGKI.com

2Korintus 5:16-21.

 

Berilah Dirimu Didamaikan Dengan Allah

 

Pengatar:
Suatu hari seorang bapak bercerita tentang penderitaan batinnya, ketika ia terlibat perseteruan dengan istrinya. Penyebab perselisihan itu sebenarnya karena masalah yang sepele, yaitu sang bapak menghendaki istrinya melakukan sesuatu seperti yang diinginkannya (misalnya: meletakan handuk pada tempatnya, menata perabot sesuai dengan posisi dan jenis barangnya dan hal-hal demikianlah) Tetapi rupanya sang istri merasa dirinya tidak punya hak atau merasa tidak diorangkan di rumah oleh suaminya. terjadilah pertengkaran hebat yg membuat mereka saling berdiam diri/tidak berbicara dalam waktu cukup lama. Sang bapak merasa situasi itu sangat tidak nyaman dan menyiksa dirinya. Kemudian dia berinisiatif untuk berdamai dengan istrinya dan tidak lagi memusingkan hal-2 sepele yang tidak penting. Sejak perdamaian itu terjadi keduanya hidup dalam sukacita dan kebahagiaan.

Pemahaman:

  1. Apa yang hendak ditekankan oleh Rasul Paulus agar dapat hidup berdamai dengan Tuhan dan sesama? (v 16-17)
  2. Siapa yang dapat menjadi sumber perdamaian dalam hidup manusia? (v. 18-19, 21)
  3. Siapa saja yang terlibat dalam rangka Allah mendamaikan manusia dengan diri-Nya? (v. 20)

Perikop ini adalah sebuah gambaran tindakan Allah melakukan pendamaian diri-Nya dengan manusia yang berdosa. Allah sendiri di dalam Tuhan Yesus berinisiatif untuk mengadakan perdamaian dengan manusia, dengan tidak menuntut persyaratan apapun. kita tahu hanya Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus saja yang dapat mendamaikan manusia dengan Allah, dengan sesamanya dan dengan dirinya. Karena itu Allah tidak menuntut syarat-2 dari manusia dalam proses pendamaian itu. Tujuan Allah adalah supaya manusia bisa hidup sejahtera dalam hubungan dengan sesama, dengan Allah dan dengan dirinya sendiri. Dalam rangka mendamaikan diri-Nya dengan manusia, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan dirinya, Allah melibatkan peran manusia. Di sinilah kita melihat bahwa Allah ingin menjadikan manusia sebagai mitra dalam karya pendamaianan-Nya (20)

Hanya satu yang perlu dilakukan oleh manusia jika ingin mengalami kedamaian dalam hidupnya, yaitu meresponi inisiatif Allah itu dengan iman yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, meninggalkan hidup lama dan hidup dalam hidup yang dipimpin oleh Allah, itulah yang disebut hidup baru.

 

Refleksi:
Coba kita merenungkan sejenak kehidupan kita, apakah kita sudah hidup berdamai dengan Allah, dengan sesama dan denngan diri sendiri. Terkadang kita terlalu angkuh dan merasa tidak perlu hal itu, namun kita lupa bahwa ketika kita tidak mau hidup berdamai dengan Allah, dengan sesama dan dengan diri kita sendiri, sesungguhnya kita menyiksa diri sendiri.

Tekad:
Aku mau merendahkan hati dan mengakui bahwa ketika aku tidak mau berdamai dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri, aku sedang menyiksa dirin sendiri. Untuk itu aku harus meresponi dengan iman yang benar inisiatif Allah untuk mendamaikan diriku dengan diri-Nya, sesama dan diriku sendiri.

 

Tindakan:
Mulai hari ini aku harus menyelidiki hatiku, jika aku menemukan bahwa aku telah berselisih, berseteru atau dendam dengan seseorang, apakah orang yang paling dekat dengan diriku atau yang jauh. Mulai hari ini aku akan melakukan perdamaian dengan mereka. Aku yakin jika Tuhan yang menolongku maka aku pasti mampu melakukannya, sebgai wujud hidup baru di dalam Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«